Breaking News:

PKS: Bank Syariah Indonesia Harus Capai Target Tanpa Tinggalkan Umat

pendekatan BSI dalam rangka mencapai target 10 besar bank syariah global akan mudah tercapai bila bersinergi dengan umat

dok. DPR RI
Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Syariah Indonesia (BSI) menargetkan untuk masuk menjadi 10 besar bank syariah global pada 2025. BSI memproyeksikan pada periode tersebut kapitalisasi pasar BSI telah mencapai 7,5-8 miliar dolar AS.

Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan Anis Byarwati memberikan catatan atas target tersebut, menurutnya BSI harus besar tetapi tidak melupakan akarnya.

"BSI jangan seperti beberapa waktu lalu yang berdampak Muhammadiyah akan menarik dananya jika tidak berpihak pada masyarakat kecil," ujar Anis, kepada wartawan, Senin (26/7/2021).

Baca juga: Tingkatkan Prokes, BNPB Distribusikan Bantuan Masker-Hand Sanitizer ke Warga Kepulauan Seribu

Anggota Komisi XI DPR RI ini menyebutkan bahwa pada saat paparan BSI di Komisi XI, rasio pembiayaan UMKM sejak Desember 2020 sebelum merger hingga Maret 2021 hanya meningkat 0,23 persen.

Bahkan, jika dilihat dari berdirinya BSI di bulan Februari 2021, porsi pembiayaan UMKM hanya naik 0,01 persen saja.

Baca juga: TV Analog Cukup Tambah Set Top Box (STB) dan Antena UHF untuk Menikmati Siaran Digital

"Kondisi ini seolah membenarkan bahwa merger Bank Syariah BUMN ini hanya melihat potensi dana masyarakat muslim saja tanpa mau tau kondisi ekonomi umat yang sebenarnya, sehingga enggan menyalurkan pembiayaan ke UMKM secara lebih ekspansif," katanya.

Baca juga: Guna Minimalisir Kemacetan, Polisi Beri Pelonggaran Akses Melintas di Pos Penyekatan Lenteng Agung

Menurutnya saat krisis kesehatan akibat penyebaran Covid-19 ini, BSI harusnya mampu menjawab tantangan dengan membuktian bahwa anggapan BSI tidak bersama umat itu tidak tepat.

"Perhatian BSI terhadap wafatnya lebih dari 500 ulama dan kyai misalnya, kurang memperlihatkan simpati yang berarti. Padahal para ulama inilah yang sangat membantu untuk membuat masyarakat muslim percaya kepada BSI sebagai tempat menempatkan dana," ujarnya.

Anggota Fraksi PKS DPR RI ini menyayangkan BSI sebagai sebuah lembaga keuangan bernafaskan syariah yang berorientasi pada maqoshid syariah, semestinya menhadirkan empati dan simpati terhadap hilangnya banyak nyawa rakyat di masa pandemi.

"Ini bisa dijadikan sebagai agenda kerja utama untuk membuktikan bahwa BSI adalah milik umat Islam dan bersama umat pula ketika menghadapi masa sulit seperti sekarang ini, umat Islam bukan hanya sebatas potential market semata," katanya.

Wakil Ketua BAKN DPR RI ini menekankan bahwa pendekatan BSI dalam rangka mencapai target 10 besar bank syariah global akan mudah tercapai bila bersinergi dengan umat dan menjalankan strategis bisnis yang unik dan berbeda dengan pola bank konvensional.

Menurutnya BSI harus bisa mensinergikan progress kegiatan merger-nya, tantangan bisnis yang berat dan mewujudkan keberpihakan kepada permasalahan umat, dengan tetap menjaga sustainabilitas kondisi keuangan perusahaan dan keberkahan.

"Dengan membuat diferensiasi maka BSI akan tampak lebih unggul dibandingkan layanan lainnya, segala yang unik dan berbeda akan memberikan daya tarik tersendiri bagi para konsumen," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved