Impian Demokrasi ala Bung Hatta: Negara Hadir Tanpa Batasi Hak Rakyat Berekspresi

Bung Hatta adalah sosok yang sederhana dan cenderung ingin tampil di belakang layar sehingga menjadi kurang menarik jika dibandingkan dengan Bung Karn

Ist
Burhanuddin Muhtadi 

TRIBUNNEWS.COM, Jakarta - “Bung Hatta adalah sosok yang sederhana dan cenderung ingin tampil di belakang layar sehingga menjadi kurang menarik jika dibandingkan dengan Bung Karno yang hangat dan flamboyan atau Tan Malaka yang radikal kontroversial.”

Demikian dipaparkan Burhanuddin Muhtadi pada talk show episode pertama, BKNP PDI Perjuangan mengangkat tema “Bung Hatta dan Demokrasi” dengan menghadirkan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, yang dipandu oleh aktivis kebangsaan Garda Maharsi.

Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan bahwa Bung Hatta memang lebih banyak dikenal sebagai ‘man of work’, sebagai orang yang bekerja di belakang layar.

“Orang seperti Bung Hatta ini merupakan pemimpin bertipe administrator, bukan solidarity maker seperti Bung Karno yang memiliki kemampuan berpidato luar biasa,” jelasnya.

Sebelum melihat lebih jauh tentang pemikiran demokrasi Bung Hatta, Burhanuddin menilai bahwa kita harus melihat Bung Hatta lebih jernih. Sebab menurutnya di antara founding fathers Indonesia yang lain, Bung Hatta merupakan sososk yang kurang mendapatkan perhatian terutama dari sisi akademiknya.

Baca juga: Hari ini Dalam Sejarah, Presiden Soekarno Meninggal Dunia dan Cerita Dijenguk Hatta

Terkait dengan demokrasi, maka hal pertama yang tidak bisa dilepaskan dari Bung Hatta adalah latar belakang daerah kelahirnya di Bukittinggi Sumatera Barat. Seperti yang diungkapkan Nurcholis Majid saat menulis tentang Bung Hatta.

Cak Nur menekankan bahwa Demokrasi Bung Hatta tidak bisa dilepaskan dari setting Minangkabau.

“Minangkabau itu kan dikenal dengan pemikirannya yang dinamis, terbuka anti parokial dan tidak mengenal hirarki sehingga orang bisa berdebat dengan luar biasa,” terang Burhanuddin.

Catatan lain, Hatta lahir dari keluarga cerdik cendikia, relijius sekaligus saudagar.

“Hal ini yang membuat seorang Bung Hatta bisa menikmati jenjang pendidikan yang luar biasa.di Eropa”, ungkap Burhanuddin.

Saat menempuh pendidikan di Belanda itulah, Bung Hatta mengkritik sebuah sistem demokrasi yang ia anggap sebagai demokrasi rasial. Sebab menurut Hatta, kehidupan di Belanda sangat demokratis. Namun Belanda sendiri tidak mau menerapkan nilai-nilai ini di daerah jajahannya.

“Jadi, kritik-kritik keras Bung Hatta, justru ia sampaikan saat berada di pusatnya penjajahan,” lanjut Burhanuddin.

Yang menarik dari Bung Hatta, meskipun ia seorang aktivis yang kutu buku dan seringkali mengkritik demokrasi ala barat, namun Hatta sendiri tidak anti terhadap demokrasi Barat.

Ini berbeda dengan Syahrir misalnya yang cendrung ‘taklid buta’ terhadap demokrasi Barat, atau Bung Karno yang cenderung anti terhadap demokrasi Barat.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved