Breaking News:

Survei IPO: Elektabilitas PAN Naik Signifikan Ungguli PKS

Survei ini dilakukan pada periode 2 - 10 Agustus 2021 dengan melibatkan 1.200 responden.

Tribunnews.com/Chaerul Umam
Elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendatangi kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN) di Jalan Daksa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/5/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia Politik Opinion (IPO) merilis hasil survei terkait elektabilitas partai politik.

Hasil survei menunjukkan adanya pergerakan elektabilitas parpol kelas menengah.

Pergeseran posisi paling terlihat yakni turunnya elektabilitas PKS di mana pada posisi bulan April berada di urutan ke-5 (5,3 persen) lalu turun ke posisi 8 (4,9 persen) pada hasil survei terbaru.

Survei ini dilakukan pada periode 2 - 10 Agustus 2021 dengan melibatkan 1.200 responden.

Adapun pengambilan sampel memakai metode multistage random sampling, dengan sampling error 2,5 persen dan tingkat akurasi data 97 persen.

"PAN, saya kira selama periode April - Agustus, termasuk partai yang tidak banyak bicara, berbeda dengan PKS yang banyak melakukan argumentasi cukup banyak, tapi faktanya justru PKS menurun," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah dalam diskusi daring Polemik Trijaya, Sabtu (14/8/2021).

Baca juga: Survei IPO: Kemensos Dinilai Publik Bekerja Paling Baik saat Pandemi, Dibanding Kementerian Lain

Dedi mengatakan kondisi PKS sangat mungkin dipengaruhi lahirnya Partai Gelora, di mana Partai Gelora sendiri dalam temuan IPO mendapat respon elektabilitas 0,7 persen.

Sedangkan Partai Amanat Nasional (PAN) alami peningkatan signifikan hingga 2 kali lipat, dari posisi bulan April 2021 PAN di angka 2.2 persen meningkat ke 5.8 persen pada Agustus.

Meski alami perpecahan dengan hadirnya Partai Ummat, namun kepemimpinan Zulkifli Hasan dinilai masih piawai membangun soliditas di internal PAN.

"Meskipun mengalami perpecahan dengan hadirnya partai Ummat, tetapi Zulhas berhasil membuktikan kepiawaiannya menjaga soliditas PAN, bahkan berhasil mengungguli PKS, ini temuan menarik sekaligus pesan untuk PKS agar lebih waspada," terang Dedi.

Dedi menyebut kondisi ini jadi pertanda bahwa ada pertarungan parpol kelas menengan menuju konstelasi politik 2024, utamanya pada basis pemilih Islam.

PKB meski berada di urutan teratas dengan 7,5 persen tapi angkanya tak jauh dari PAN dan PKS.

Sehingga perebutan pemilih secara ketat sangat mungkin terjadi.

"Terjadi pergerakan elektabilitas di parpol kelas menengah, dan ini pertanda bagus, artinya publik memperhatikan mereka," pungkas dia.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved