Konflik di Afghanistan

Taliban Kuasai Afghanistan, Anggota Komisi I DPR: Fokus Utama Sekarang Keselamatan dan Keamanan WNI

Christina Ariyani mengatakan pemerintah harus secepatnya mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) menyikapi situasi terkini di Afghanistan.

Penulis: Reza Deni
Editor: Adi Suhendi
ist
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar Christina Aryani. 

Laporan Reporter Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI Christina Aryani mengatakan pemerintah harus secepatnya mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) menyikapi situasi terkini di Afghanistan.

"Concern utama saat ini adalah keselamatan dan keamanan WNI. Hal-hal lain akan berjalan dengan melihat perkembangan situasi ke depan nantinya," kata Aryani saat dihubungi, Rabu (18/8/2021).

Aryani mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan Kemenlu.

Menurut dia, evakuasi terhadap WNI akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Sejauh ini sudah diidentifikasikan WNI yang ada di sana dan sudah diberikan briefing kepada masing-masingnya langkah pengamanan diri yang perlu dilalukan," katanya

Terkait dengan posisi Indonesia, politikus Partai Golkar tersebut mengatakan Indonesia pasti akan mempertahankan posisi diplomatiknya.

"Misi diplomatik atau political presence Indonesia tetap akan dipertahankan di Afghanistan sembari melihat perkembangan lebih lanjut," katanya.

Baca juga: Kata Moeldoko Soal Taliban Kuasai Afghanistan

Diketahui, media-media barat telah 'blak-blakan' melaporkan pemberitaan mengenai perebutan ibu kota Afghanistan, Kabul, yang dilakukan secara cepat oleh gerilyawan Taliban.

Kelompok militan itu telah berhasil menduduki hampir seluruh wilayah Afghanistan, sebelum akhirnya memasuki kota tersebut.

Perlu diketahui, pada 6 Agustus lalu, Taliban telah merebut Lashkargah, pusat administrasi Provinsi Helmand Afghanistan, lalu sepuluh hari kemudian, mereka merebut Kabul.

Sebelumnya, intelijen Amerika Serikat (AS) memprediksi bahwa pemerintahan Afghanistan bisa runtuh sekitar enam bulan setelah penarikan pasukan AS.

Dikutip dari laman Sputnik News, Senin (16/8/2021), serangan militan ini muncul dengan dilatarbelakangi penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan.

Baca juga: Pemimpin Taliban Telah Kembali dari Pengasingan, Siap Bentuk Pemerintahan di Afghanistan

Ini seiring dengan kesepakatan damai yang tercapai antara pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump dan Taliban pada awal 2020.

Menariknya, sebagian besar media barat bereaksi sangat kritis terhadap peristiwa yang terjadi pada hari Minggu kemarin.

Mereka menerbitkan artikel yang menampilkan berita utama dengan judul yang berfokus pada runtuhnya pemerintah Afghanistan, pengunduran diri Presiden Ashraf Ghani, dan pemberontak yang ternyata dapat memasuki kediamannya.

Pada hari Minggu kemarin, Taliban telah berhasil menguasai Kabul, hal ini yang akhirnya membuat Presiden Ashraf Ghani mengumumkan pengunduran dirinya dan meninggalkan negara itu.

Ia mengatakan keputusannya tersebut didasarkan pada keinginannya untuk mencegah kekerasan terjadi, karena Taliban diduga siap melakukan serangan di ibu kota.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved