Kamis, 28 Mei 2026

Undang Megawati, Cara Jokowi Redam Kritik 'Banteng'? 

Pertemuan yang tiba-tiba itu membatalkan agenda Megawati yang sedianya menjadi pembicara dalam Webinar Kebangsaan Lintas Agama yang digelar PDIP.

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube Kompas TV
Momen Jokowi saat Megawati Soekarnoputri menceritakan menangis demi membela presiden. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri tiba-tiba bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (18/8/2021) siang. 

Pertemuan yang tiba-tiba itu membatalkan agenda Megawati yang sedianya menjadi pembicara dalam Webinar Kebangsaan Lintas Agama yang digelar PDIP.

"Saya tadi pagi dihubungi oleh Sekjen PDIP Pak Hasto untuk dapat mewakili Ibu Ketua Umum (Megawati) yang sedianya akan memberikan sambutan dan membuka webinar ini, tetapi pagi tadi mendapat konfirmasi diundang Bapak Presiden Joko Widodo untuk bertemu pada siang hari ini," ujar Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, dalam webinar tersebut, Rabu (18/8/2021).

Sayangnya, Basarah tak menjelaskan dimana tepatnya pertemuan antara Jokowi dengan presiden kelima RI itu digelar. Termasuk tujuan dilangsungkannya pertemuan tersebut. 

Pihak Istana sendiri mengkonfirmasi kebenaran pertemuan keduanya. Deputi Bidang Protokol, Pers dan Medis Sekretariat Presiden, Bey Machmuddin menyampaikan keduanya bertemu di acara purna pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka).

Baca juga: Jokowi Sering Dihina Buat Megawati Menangis, Gibran Malah Tanggapi Santai: Udah Risiko, Udah Biasa

Megawati disebutnya juga menemui 68 paskibraka yang ada disana sebagai duta Pancasila. Sebab putri Soekarno itu menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). 

"(Keduanya) bertemu di acara paskibraka, bertemu 68 paskibraka juga. Bu Mega sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP," ujar Bey, saat dikonfirmasi.

Senada, Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres) Heru Budi Hartono mengatakan Jokowi dan Megawati bertemu di acara purna paskibraka.

"Itu acara purna paskibraka sebagai duta Pancasila. Dan Ibu Megawati sebagai dewan Pengarah BPIP kan," kata Heru.

Buntut Kritikan PDIP hingga Megawati ke Jokowi 

Direktur Eksekutif Lingkar Mardani Ray Rangkuti mengatakan undangan Jokowi kepada Megawati tak lepas dari 'ketegangan' yang terjadi antara PDIP dengan Jokowi, beberapa waktu belakangan.

Bahkan kritikan juga terucap dari mulut Megawati karena Jokowi tak langsung mengambil alih penanganan Covid-19. 

"Ini buntut dari 'ketegangan' yang terjadi antara PDIP dengan beberapa elit di kabinet Jokowi. Untuk mendinginkan suasana, dan memberi informasi langsung kepada ibu Mega, maka pak Jokowi mengundang langsung ibu Mega ke Istana," kata Ray, ketika dihubungi, Kamis (19/8).

Senada, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyebut kritikan elit PDIP semakin menjadi-jadi setelah Gibran Rakabuming Raka --putra sulung Jokowi-- mengunggah foto sang ayah bersama Airlangga Hartarto. 

Foto bersama Ketua Umum Partai Golkar itu menimbulkan tafsir bermacam-macam terutama di publik. Salah satunya Jokowi lebih nyaman dengan Partai Golkar ketimbang PDIP

Penunjukkan dua elit Golkar --Airlangga dan Luhut Binsar Pandjaitan-- pada posisi pemegang otoritas penanggulangan Covid-19 pun dinilai sebagai bukti kenyamanan Jokowi

"Publik melihat pertemuan ini terkesan spesial, karena belakangan ini beredar spekulasi liar bahwa PDIP dan Jokowi ‘bentrok hati’, ditengarai karena sejumlah elit PDIP mengkritik Jokowi. Kondisi politik makin spekulatif setelah Gibran mengunggah foto Jokowi dan Airlangga yang ditafsir publik Jokowi lebih nyaman ke Golkar yang selalu loyal," ungkap Adi.

Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio menyebut Jokowi sendiri tak bisa disalahkan ketika hubungannya menjadi renggang dengan PDIP

Menurutnya, kepercayaan Jokowi kepada elit Golkar tak lepas dari 'pengkhianatan' yang dilakukan eks Menteri Sosial Juliari Batubara ketika menyalahgunakan wewenang dalam perkara bantuan sosial (bansos).

"Persepsi masyarakat kan saat ini Jokowi dengan Megawati atau dengan PDIP sedang renggang, karena terkait pak Jokowi lebih suka bekerja dengan kader Golkar yaitu Airlangga Hartarto dan Luhut Binsar Pandjaitan di masa pandemi ini untuk penanggulangan Covid-19," kata Hendri. 

"Walaupun saya tidak bisa menyalahkan pak Jokowi 100 persen, karena kader PDIP Juliari Batubara saat diminta ngurus bansos yang sangat strategis di pandemi itu malah berkhianat dan melakukan korupsi," imbuhnya. 

Kepercayaan Megawati ke Jokowi Pulih Kembali 

Pascapertemuan Megawati dan Jokowi pada Rabu (18/8) siang, hubungan partai berlambang kepala banteng moncong putih dengan Jokowi dipercaya pulih kembali. 

Bukan tanpa sebab, Megawati terpantau pasang badan dan mengkritik keras para pihak yang mengkritik Jokowi dalam acara peletakan batu pertama pembangunan perlindungan kawasan suci Pura Besakih, Bali, secara daring. 

Sebelum meresmikan acara, Megawati menyampaikan keprihatinannya terkait kerapnya Jokowi menerima kritik yang kerap disampaikan secara tidak beretika. 

"Coba lihat Pak Jokowi. Saya suka nangis lho. Beliau itu sampai kurus. Kurus kenapa? Mikir kita, mikir rakyat. Masa masih ada yang mengatakan Jokowi kodok lah. Orang itu benar-benar tidak punya moral. Pengecut, saya bilang. Saya dibully juga nggak takut kok. Coba datang berhadapan. Jantan kamu. Kita mesti berkelakuan sebagai warga negara yang punya etika moral. Jangan sembarangan," kata Megawati

Direktur Eksekutif Lingkar Mardani Ray Rangkuti mengatakan undangan Jokowi ke Megawati terbukti sebagai langkah politis yang berhasil. Pidato Megawati yang mengkritik para pengkritik Jokowi merupakan indikasi nyata. 

"Tentu ini langkah politis yang berhasil dari pak Jokowi. Politik makan siang dapat menyelesaikan bahkan hampir seluruh ketegangan politik. Jika membaca pidato ibu Mega yang mengecam para pengkritik pak Jokowi, nampaknya itu juga isyarat agar kader PDIP mulai fokus untuk kembali mendukung kebijakan-kebijakan pak Jokowi," kata Ray. 

Ray melihat besar kemungkinan tidak akan ada perubahan drastis dalam kebijakan dan langkah Presiden Jokowi dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Dimana akan berjalan sebagaimana seperti sekarang. 

"Misalnya, tidak akan ada koreksi atas multi jabatan yang diemban oleh pak Luhut Binsar Pandjaitan. Pejabat yang paling banyak mendapat sorotan dari PDIP," katanya. 

Adakah Pembicaraan Menuju 2024? 

Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengungkap Megawati dirasa memang perlu memperbaiki hubungan serta mendekatkan diri kembali dengan Jokowi.

Sebab, tak dipungkiri Jokowi masih memiliki peran besar dalam perhelatan politik di 2024 mendatang. 

"Saya rasa perlu ibu Megawati untuk memperbaiki. Aaya rasa alasannya ada dua hal. Pertama penanggulangan Covid-19, yang kedua adalah 2024 pastinya. Karena sebagai penguasa pak Jokowi masih memiliki kekuatan untuk mengarahkan atau minimal mempopulerkan calon," ujar Hendri. 

Berbeda dengan Hendri, pengamat politik Universitas Indonesia Ari Junaedi menduga pertemuan Jokowi dan Megawati sama sekali tak membicarakan persoalan 2024. Melainkan lebih kepada persoalan penanganan pandemi. 

"Pertemuan antara Jokowi dengan Megawati kerap terjadi tanpa diketahui pihak luar sebetulnya. Saya paham betul dengan gesture Megawati karena lama mendampingi beliau. Saya pastikan tidak ada pembicaraan terkait suksesi 2024. Ibaratnya Belanda masih jauh," ujar Ari. 

Ari merujuk pada pernyataan Megawati yang menyatakan keprihatinannya terkait kritik-kritik yang masih diterima mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut perihal penanganan pandemi. 

"Terbukti dalam pernyataan Megawati usai pertemuan dengan Jokowi tersebut, Megawati menyatakan keprihatinannya terkait masih adanya pihak-pihak yang menyudutkan Jokowi dalam penanganan pandemi," katanya. 

"Pandemi adalah persoalan dunia, tidak ada negara satupun yang kebal dengan wabah corona termasuk AS sekalipun yang dinobatkan sebagai negara adidaya. Justru Megawati menyatakan dukungannya kepada Jokowi untuk tetap istiqomah dalam perjuangan menangani pandemi covid," tandasnya. (vjc) 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved