Breaking News:

Parpol Oposisi Dikritik, Demokrat: Fahri Hamzah Rindu Hidup seperti Zaman SBY

Partai Demokrat menilai Fahri Hamzah rindu hidup seperti di era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Penulis: chaerul umam
Editor: Sanusi
Tribunnews/Irwan Rismawan
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah berpose usai wawancara khusus dengan Tribun Network di Jakarta, Kamis (3/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menyerang oposisi di parlemen.

Fahri menuliskan di situs pribadinya berjudul 'Oposisi Sekongkol, Rakyat yang Tawuran'.

Partai Demokrat menilai Fahri Hamzah rindu hidup seperti di era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baca juga: Fahri Hamzah Kritik Oposisi di Parlemen: Kalian Bersekongkol, Rakyat yang Tawuran

"Kritik yang disampaikan Bang Fahri Hamzah menyiratkan kerinduan ketika kehidupan demokrasi kita terjaga dan berkualitas seperti pada Pemerintahan SBY. Pada masa itu 2004-2014, masyarakat politiknya sangat aktif dan dinamis, termasuk di DPR dalam menjalankan tugas-tugas kedewananannya," kata Deputi Bappilu Partai Demokrat, Kamhar Lakumani, Minggu (5/9/2021).

Bahkan, kata Kamhar, kondisi parlemen era SBY punya koalisi rasa oposisi.

Baca juga: Kongres Nasional II KA KAMMI, Fahri Hamzah: Rangkai Persatuan untuk Hadapi Tantangan Zaman

Menurutnya, hal itu bagus untuk demokrasi.

"Jangankan dari oposisi, dari partai koalisi pemerintah namun cita rasa oposisi seperti Bang Fahri Hamzah dkk juga banyak, dihargai dan eksistensinya terjaga. Itu diperlukan untuk menjaga sehatnya demokrasi. Begitulah Pak SBY sebagai demokrat sejati memandang dan menempatkan dinamika dalam koalisi pemerintah," ucapnya.

Kamhar mengatakan pada periode 2014-2019, kekuatan oposisi di parlemen masih signifikan sekalipun dari sisi jumlah kalah setelah Golkar pindah haluan masuk koalisi pemerintah.

"Menjadi berbeda ceritanya dengan periode 2019-2024. Sejak awal oposisi telah ditinggal oleh Gerindra yang pindah haluan menjadi koalisi pemerintah dan hanya tersisa Partai Demokrat dan PKS. 5 kursi pimpinan DPR semuanya dari koalisi pemerintah," ujarnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah berpose usai wawancara khusus dengan Tribun Network di Jakarta, Kamis (3/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan
Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah berpose usai wawancara khusus dengan Tribun Network di Jakarta, Kamis (3/6/2021). Tribunnews/Irwan Rismawan (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Kamhar menduga Fahri tak bisa menyaksikan suara oposisi di parlemen karena sudah tidak lagi berada di Senayan.

Dia menyinggung insiden mic mati yang dialami legislator Demokrat saat menyampaikan interupsi dalam rapat paripurna DPR.

"Mungkin karena tak menjadi Anggota DPR lagi, Bang Fahri tak menyaksikan lagi bagaimana kekuatan dan suara-suara opisisi dibungkam dan tak diberi ruang. Bung Irwan Fecho saat menggunakan haknya berbicara pada rapat paripurna DPR mic-nya dimatiin oleh Puan Maharani dan Aziz Syamsudin," ucapnya.

Baca juga: Kemenhub Siapkan Regulasi Aturan Ganjil Genap di Kawasan Puncak Bogor

"Bagaimana Pak Sartono Hutomo dan Pak Benny K Harman ingin berbicara pada rapat paripurna tak diberi kesempatan dan mic-nya mati dan masih banyak lagi yang lainnya dari Fraksi Demokrat yang mendapatkan perlakuan serupa," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved