Breaking News:

Ismail Fahmi: Emosi Netizen yang Paling Sering Muncul Soal Penghapusan Mural Adalah Ketakutan

Ia mencontohkan ekspresi tersebut misalnya dengan ungkapan bahwa netizen merasa tidak bebas atau takut mengeluarkan pendapat.

Tribunnews.com/ Gita Irawan
Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi dalam acara bertajuk Mural Yang Viral, Dihapus Di Dinding, Menjalar Ke Medsos yang disiarkan di kanal Youtube Gelora TV pada Rabu (8/9/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan berdasarkan pemantauan percakapan di media sosial Twitter terkait topik penghapusan mural, emosi netizen yang paling sering diekspresikan adalah ketakutan.

Ia mencontohkan ekspresi tersebut misalnya dengan ungkapan bahwa netizen merasa tidak bebas atau takut mengeluarkan pendapat.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara bertajuk Mural Yang Viral, Dihapus Di Dinding, Menjalar Ke Medsos yang disiarkan di kanal Youtube Gelora TV, Rabu (8/9/2021).

"Netizen paling besar itu nomor satu adalah fear (ketakutan), dia menggambarkan ekspresi mereka di dalam cuitan-cuitan itu dan yang paling sering muncul adalah ketakutan. Menarik ini. Beda, kalau soal trust (kepercayaan) kecil. Tidak terlalu banyak muncul," kata Fahmi.

Emosi kedua yang paling sering diekspresikan netizen terkait tren percakapan soal penghapusan mural, adalah kesedihan.

Baca juga: Pendiri Drone Emprit Ingatkan Pemerintah Soal Tren Percakapan Di Medsos Tentang Penghapusan Mural

Ia mencontohkan emosi tersebut terekspresikan dengan ungkapan-ungkapan yang biasanya menyayangkan realita perlakuan aparat yang menghapus mural-mural tersebut.

"Jadi sedih melihat realita, sedih akan bangsa ini kok seperti ini. Ngelihat mural aja kok takut," kata dia.

Emosi ketiga yang paling sering diekspresikan adalah terkejut.

Baca juga: Empat Mural Viral di Tangerang, Jakarta dan Pasuruan yang Akhirnya Dihapus Petugas

Sementara itu emosi kemarahan yang diekspresikan netizen terkait percakapan soal penghapusan mural tersebut justru terpantau lebih jarang.

"Kemudian joy, jadi meskipun takut, masyarakat happy (senang), dapat hiburan mereka. Jadi kalau bayangan saya, kalau menggunakan tindakan represif, atau kemudian berharap seketika dihapus terus ada efek jera, rasanya kok sulit. Karena malah happy. Ketika dihapus malah happy," kata Fahmi.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved