Breaking News:

Mahfud MD Sebut 3 Hal Yang Buat Hubungan Islam dan Negara Terus Dipertanyakan Meski Sudah Final

Mahfud menilai sebab pertama yang membuat pertanyaan tersebut terus ditanyakan adalah generasi yang terus berganti.

Tribunnews.com/Gita Irawan
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD saat konferensi pers di kantor Kemenko Polhukam pada Rabu (19/5/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebut ada tiga hal yang membuat hubungan Islam dan negara terus dipertanyakan meski sudah final yakni didasarkan pada Pancasila.

Hal tersebut disampaikannya dalam peluncuran buku Catatan dari Senayan 2: Relasi Islam dan Negara, Perjalanan Indonesia karya Arsul Sani secara virtual pada Rabu (20/10/2021).

Dalam catatannya terkait buku karya Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangun (PPP) Arsul Sani berjudul Catatan dari Senayan 2: Relasi Islam dan Negara, Perjalanan Indonesia, Mahfud menggaris bawahi pada bagian pembukaan yang dimulai dengan pertanyaan tentang Islam dan negara.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, kata Mahfud, terus didapatkan Arsul setiap ia pergi daerah.

Namun demikian, kata dia, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga selalu didapatkannya sendiri apabila pergi ke daerah.

Pertanyaan tersebut, kata Mahfud, di antaranya bagaimana kedudukan Islam di dalam negara? Kenapa Indonesia tidak menjadi negara Islam? Kenapa Indonesia tidak menganut piagam Jakarta?

Baca juga: Luncurkan Buku Relasi Islam dan Negara, Arsul Sani Tinjau Artikulasi Syariat Islam dalam Legislasi

Baca juga: Habib Syakur: Paham Radikalisme Bahaya Besar Bagi Keutuhan Bangsa

Baca juga: NII Crisis Center Sebut Ada Ribuan Penganut Paham Radikalisme di Lampung

Untuk itu Mahfud menilai sebab pertama yang membuat pertanyaan tersebut terus ditanyakan adalah generasi yang terus berganti.

Untuk itu, kata dia, sosialisasi atau pewarisan nilai-nilai harus dilakukan dari waktu ke waktu misalnya dengan menulis buku.

"Jadi kita tidak boleh bosan merawat negara ini yang keputusan finalnya itu sudah selesai," kata Mahfud.

Kedua, kata dia, saat ini Indonesia semakin demokratis.

Setia warga, kata dia, diperbolehkan berpendapat dan mengkritik.

Ketiga, kata dia, hubungan masyarakat dengan dunia luar juga menawarkan atau membawa alternatif-alternatif ideologi pembanding.

Ide-ide baik dari Barat maupun Timur yang masuk, kata dia, merupakan dampak semakin terbukanya hubungan antarmasyarakat.

"Bahwa pertanyaan ini akan selalu muncul dan kita harus selalu siap mewarisi nilai-nilai itu, mewariskan kesepakatan-kesepakatan bangsa itu dari waktu ke waktu. Jangan merasa, apa sih ini tidak selesai sih. Ya selesai, tetapi ada generasi baru ada perkembangan baru yang dijawab juga dan diaktualisasikan juga," kata Mahfud. (*)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved