Hari Pahlawan Nasional

Peringati Hari Pahlawan, Menteri Agama Ajak Lawan Narasi yang Mengancam Keutuhan Negeri

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan Hari Pahlawan merupakan momentum bagi tiap anak bangsa untuk berefleksi.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Wahyu Aji
dok. Kemenag
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan Hari Pahlawan merupakan momentum bagi tiap anak bangsa untuk berefleksi jasa para pahlawan.

Menurutnya, momen 10 November 1945 adalah saat seluruh bangsa Indonesia bersatu untuk mempertahankan kemerdekaan.

"Jika menengok peristiwa 10 November, 76 tahun yang lalu itu, kita bisa belajar, bagaimana seluruh masyarakat saat itu melebur, demi Indonesia," ujar Yaqut melalui keterangan tertulis, Rabu (10/11/2021).

"Saat itu, tidak ada perbedaan golongan, tingkatan, agama, dan paham. Yang ada hanya keinginan untuk mempertahankan keutuhan Indonesia. Semangat ini yang harus kita rawat dan jadikan inspirasi," tambah Yaqut.

Yaqut menuturkan pada saat ini, Indonesia memang tidak mengalami perang secara fisik.

Namun, menurutnya, banyak narasi-narasi yang muncul di masyarakat, dapat mengancam keutuhan kehidupan berbangsa di bumi nusantara.

"Narasi yang dapat mengancam keutuhan negeri ini yang harus kita lawan. Saya yakin kita mampu melakukan itu, asal ada kemauan dan saling membuka diri," tutur Yaqut.

Baca juga: Wamenag: Kementerian Agama Kembangkan Afirmasi ke Madrasah Swasta 

Dirinya tak menampik, seringkali narasi yang sifatnya memecah belah, malah muncul dalam wacana keagamaan.

Sehingga, menurut Yaqut, masyarakat di Indonesia perlu membumikan Moderasi Beragama.

Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Baca juga: Kemenag: Indonesia Pantas jadi Model Artikulasi Islam di Dunia

"Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman, sikap, dan pengamalan kita dalam beragama," pungkas Yaqut.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved