Breaking News:

Menko PMK Minta Pemda Optimal Tangani Bayi Berat Lahir Rendah 

Muhadjir mengatakan, salah satu faktor penyebab banyaknya BBLR di Provinsi NTB adalah pernikahan di bawah umur yang masih marak dilakukan. 

YouTube Sekretariat Presiden
Menko PMK Muhadjir Effendy. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyoroti masalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi NTB, BBLR sepanjang tahun 2021 sebanyak 2.361 bayi. Dari jumlah tersebut, angka kematian BBLR cukup tinggi,  sampai September 2021 sebanyak 210 bayi. 

Muhadjir mengatakan, salah satu faktor penyebab banyaknya BBLR di Provinsi NTB adalah pernikahan di bawah umur yang masih marak dilakukan. 

"Karena rahimnya belum siap mengandung, dan kemudian banyak melahirkan bayi dengan berat badan rendah," ujar Muhadjir melalui keterangan tertulis, Senin (6/12/2021).

Baca juga: Muhadjir Effendi Pastikan Tak Ada Penyekatan saat PPKM Level 3 pada 24 Desember

Menurut Muhadjir, sosialiasi perlu dilakukan sosialisasi sebelum pernikahan untuk menangani BBLR dan menyelamatkan nyawa bayi baru lahir. 

Dia meminta pemerintah daerah untuk menaruh perhatian khusus untuk mensosialisasikan usia pernikahan matang, edukasi tentang asupan gizi sehat kepada calon pengantin, dan mengampanyekan bayi lahir sehat.

"Saya mohon perhatian betul. Penanganan kelahiran bayi ini perlu dilakukan sosialisasi intensif. Mulai dari promosi kampanye tentang bayi lahir sehat, kemudian mencegah kemungkinan terjadinya bayi lahir tidak sehat, sampai penanganan di Rumah Sakit agar bayi bisa selamat," tutur Muhadjir. 

"Bagaimanapun, menyelamatkan nyawa dari jabang bayi itu mutlak untuk dilakukan. Karena itu anugerah dari Tuhan," tambah Muhadjir.

Dalam kunjungannya di RSUD Provinsi NTB, Muhadjir mengecek unit layanan Family Parenting yang khusus untuk melayani keluarga dengan anak stunting. Di unit tersebut, BBLR dan anak stunting mendapatkan perawatan dan dipantau perkembangannya hingga  berat badannya normal. 

"Kalau perlu kita pertimbangkan diterapkan secara nasional. Jadi semua bayi yang stunting dirawat dipantau dengan berbagai macam intervensi terutama nutrisi. Sehingga yang bersangkutan keluar dari jebakan stunting. Ini suatu hal yang sangat bagus," ujar Muhadjir. 

Dia mendapatkan laporan, angka stunting NTB mengalami penurnan drastis sejak 3 tahun terakhir. Dari 33 persen pada tahun 2019, menjadi 20.66 persen pada tahun 2021. 

"Saya optimis 2024 NTB angka stuntingnya bisa dibawah 14 persen seperti yang ditargetkan secara nasional oleh Presiden Joko Widodo," pungkas Muhadjir.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved