Masa Jabatan Presiden

Survei Populi Center: 64,4 Persen Responden Tolak Usulan Perpanjangan Masa Jabatan Presiden

Temuan itu merupakan gambaran bahwa publik memang tidak setuju dengan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Dewi Agustina
Istimewa
Hasil survei terbaru Populi Center menunjukkan mayoritas warga menolak usulan perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode. Sebesar 64,4 persen responden menolak ide perpanjangan masa jabatan presiden. Sementara itu ada 27,6 responden menyetujui atas usulan tersebut. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil survei terbaru Populi Center menunjukkan mayoritas warga menolak usulan perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode.

Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan mengungkapkan, sebesar 64,4 persen responden menolak ide perpanjangan masa jabatan presiden.

Sementara itu ada 27,6 responden menyetujui atas usulan tersebut.

"Ada 64,4 persen yang tidak setuju dan ada 27,6 persen yang setuju dan hanya 8 persen yang kemudian menolak menjawab pertanyaan ini," kata Rafif dalam rilis survei bertajuk 'Peta Politik Menjelang Pemilu 2024' secara daring, Minggu (24/4/2022).

Rafif menyatakan temuan itu merupakan gambaran bahwa publik memang tidak setuju dengan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

Baca juga: Jawaban Masinton Soal Apakah Percaya Bigdata Ratusan Juta Orang Ingin Presiden Jokowi Tiga Periode

Lebih lanjut, Rafif mengungkapkan sebanyak 61,8 persen responden mengetahui Pemilu Serentak (Pileg, Pilpres dan Pilkada) akan digelar pada 2024 mendatang.

Namun masih ada 38,2 persen responden yang tidak mengetahui jika pemilu serentak dilakukan di tahun 2024.

Kemudian, ketika ditanya lagi kepada responden apakah akan menggunakan hak pilihnya, mayoritas 96,8 persen akan menggunakan hak pilihnya.

Sementara itu ada 2,4 persen yang belum memutuskan apakah akan memggunakan hak pilih. Kemudian terdapat 0,7 persen yang tidak menggunakan hak pilih.

"Jadi antusiasme warga untuk berpartisipasi dalam pemilu cukup besar. Ini mungkin menjadi salah satu catatan bagi komisioner KPU yang baru untuk kemudian bisa aktif menssialisasikan pelaksanaan Pemilu 2024 mendatang," ujarnya.

Untuk diketahui, metodologi survei tersebut dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan aplikasi Populi Center di 120 kelurahan yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, dari 21 hingga 29 Maret 2022.

Besaran sampel adalah 1200 responden, dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling) denfan Margin of error=+ 2.83% pada tingkat kepercayaan 95%.

Responden dipilih secara acak bertingkat, mulai dari pengacakan untuk Kelurahan, Rukun Tetangga (RT), Keluarga, hingga akhirnya mendapatkan responden terpilih.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved