Ferry Juliantono: Sudah Saatnya Isu Anti Islamophobia Persatukan Umat Islam

Selain itu dalam acara tersebut juga dibacakan deklarasi ormas-ormas Islam Se-Jawa Barat mendukung adanya Undang-Undang (UU) Anti Islamphobia.

Editor: Hasanudin Aco
ist
Mubalig atau Dai Se-Jawa Barat menggelar acara silaturahmi di Masjid Al Latiif kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6/2022). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mubalig atau Dai Se-Jawa Barat menggelar acara silaturahmi di Masjid Al Latiif kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6/2022).

Acara ini juga dirangkai dengan diskusi yang mengambil tema 'Tarik Ulur UU Anti Islamphobia Di Indonesia'.

Hadir sebagai nara sumber dalam acara ini antara lain Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr Anwar Abbas, Forum Ulama Ummat Islam (FUUI) KH. Athian Ali,  Koordinator Desk Anti Islamphobia PP Syarikat Islam Dr Ferry Juliantono dan sejumlah narasumber lainnya.

Diskusi membahas tentang Anti Islamophobia

Selain itu dalam acara tersebut juga dibacakan deklarasi ormas-ormas Islam Se-Jawa Barat mendukung adanya Undang-Undang (UU) Anti Islamphobia.

Baca juga: MUI Pastikan Penangkapan Terhadap Teroris Bukan Bentuk Kriminalisasi Ulama atau Islamophobia

Ferry Juliantono mengatakan para tokoh dan Dai se-Jawa Barat mendukung langkah - langkah perjuangan tentang Anti Islamphobia karena isu antiIslamophobia justru akan mempersatukan umat Islam

"Sudah saatnya isu anti Islamophobia persatukan Ummat Islam. Silaturahim Dai hari ini memperkuat konsolidasi ummat dalam satu pemikiran dan perspektif yang sama dalam memandang persoalan ummat kontemporer," ujar Ferry yang juga Sekretaris Jenderal PP Syarikat Islam

Menurut Ferry, naskah akademik RUU anti Islamophobia sedang dirampungkan dan examinasi publik  tentang berbagai kasus yang menimpa ulama, tokoh Islam akan dijadikan studi pembanding pentingnya isu anti Islamphobia ini.

Oleh karena itu, kata dia, ulama, kyai, dai, advokat dan aktivis Islam dengan memohon ridho dan perlindungan Allah ta'ala menyatakan pernyataan sebagai berikut :

Pertama, kata Ferry, Islam pasti bukanlah teroris dan teroris bukan islam.

"Untuk itu kami berlepas diri tindakan dan pemikiran radikalisme, terorisme ISIS , JAD dan lainnya yang nyata dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya," katanya.

Kedua, NKRI merupakan warisan leluhur.

"Dua sisi yang tidak bisa dipisahkan karena tidak bisa  hadapkan dan dibentur-benturkan," ujarnya. 

Ketiga, element umat Islam yang terdiri dari para Ulama, kyai, Habib, Ustadz, Da'i, Kyai, Nyai lainnya adalah merupakan aset bangsa yang harus diberikan ruang memajukan bangsa dan negara serta perlindungan dari tindakan Islamofobia

Keempat, pihaknya mendorong kepada stak holder baik legislatif dan eksekutif serta seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam melahirkan UU dan Perda anti Islamofobia  baik di pusat maupun daerah untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan bangsa Indonesia. 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved