Ketum Partai Gelora Minta Pemerintah Ekstra Hati-hati Soal Faktor Non Ekonomi Penyebab Resesi

Ketua Umum (Ketum) Partai Gelora Anis Matta meminta pemerintah ekstra hati-hati dalam membuat kebijakan, terutama dalam pengelolaan belanja yang tidak

Warta Kota/YULIANTO
Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta tak tertarik membahas isu penundaan Pemilu 2024 yang ramai dibicarakan sejumlah tokoh dan elite politik dilihat dari perspektif manapun, saat ditemui oleh awak media dari Warta Kota (Tribun-Network) di Kantornya Partai Gelora Media Center, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2022). (Warta Kota/YULIANTO) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Mario Christian Sumampow

TIRIBUNNEWS, JAKARTA - Ketua Umum (Ketum) Partai Gelora Anis Matta meminta pemerintah ekstra hati-hati dalam membuat kebijakan, terutama dalam pengelolaan belanja yang tidak produktif, karena akan berdampak serius pada perekonomian

Sikap kehati-hatian ini, akan menghindarkan Indonesia dari jeratan jurang resesi atau krisis ekonomi seperti yang terjadi tahun 1998 lalu.

"Kita masih tertolong dengan adanya windfall, keuntungan kenaikan harga komoditas. Tapi komoditas ini, tidak dalam kendali kita, setiap saat bisa pergi," kata Anis dalam Gelora Tak bertajuk 'Ancaman Resesi Global Mengintai, Bagaimana Indonesia Menghadapinya?', Rabu (20/7/2022) sore.

Menurut Anis, ekonomi Indonesia saat ini tidak benar-benar aman dari resesi. Sehingga pemerintah tidak perlu melakukan pembelaan diri sekedar memberikan rasa aman kepada publik, bahwa Indonesia tidak akan terkena Resesi.

"Jauh sebelum krisis ekonomi tahun 1998 meledak, kita selalu mendengar satu mantra dari para ekonom, bahwa fundamental ekonomi kita kuat. Tapi kenyataannya, kita terkena krisis dan tiba-tiba mantra-mantra itu hilang," ujar Anis. 

Upaya itu, lanjut Anis, saat ini dicoba diulangi lagi oleh pemerintah sekarang dengan mengatakan, bahwa potensi Indonesia kecil terkena resesi.

"Apakah mantra itu, sama yang kita baca sekarang atau tidak, nanti kita lihat, karena krisis punya cara kerja sendiri. Tapi yang kita saksikan setiap hari, adalah wajah-wajah publik yang semakin galau, semakin frustrasi dan semakin kehilangan harapan," katanya.

Baca juga: Terancam Resesi, Microsoft Susul Google Setop Perekrutan Karyawan

Anis juga menegaskan krisis berlarut saat ini akan terus membuat ledakan dan benturan demi benturan yang tidak terduga. Benturan ini akan menciptakan pecahan-pecahan peristiwa besar.

Krisis ekonom saat ini, lanjutnya, selain memilliki sifat sistemik juga dipengaruhi banyak faktor geopolitik seperti perang supremasi antara Amerika Serikat-Rusia, yang berdampak pada harga komoditas secara global.  

"Banyak negara mengalami goncangan yang politik yang luar biasa akibat krisis ekonomi. Persoalan kita sebagai bangsa pada sisi konflik supremasi ini, kita sangat mungkin bisa menjadi collateral damage," tegasnya.

Karena itu Anis berharap pemerintah mampu membaca arah krisis secara global, seperti kemana arah selanjutnyna dan dimana titik aman Indonesia agar tidak menjadi collateral demage.

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Political Economic and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengatakan, ekonomi Indonesia saat ini sedang menuju resesi. Indikasinya, inflasi tinggi, harga-harga melonjak dan utamanya harga komoditas dunia. 

Baca juga: Resesi Ekonomi Mengancam, Analis: Kurangi Instrumen Saham, Perbanyak Cash

"Indonesia bergantung pada The Fed (Bank Sentra AS) untuk penentuan suku bunga. Sehingga pemerintah harus waspada apabila suku bunga dinaikkan, karena akan berpengaruh pada pelemahan rupiah dan harga komoditas yang menurun. Tentu ini, akan sangat menyulitkan kembali bagi Indonesia," kata Anthony.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved