Bocah SD Tewas Korban Bully

Awal Mula Terungkapnya Kasus Bullying, Kondisi Korban Sebelum Meninggal & Desakan Usut hingga Tuntas

Sejumlah pihak meminta agar kepolisian mengusut tuntas kasus meninggalnya bocah SD di Tasikmalaya karena depresi akibat bullying.

Editor: Dewi Agustina
Dok. KPAID Kabupaten Tasikmalaya
Sejumlah pihak meminta agar kepolisian mengusut tuntas kasus meninggalnya bocah SD di Tasikmalaya karena depresi akibat bullying. Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Ato Rinanto, bersama anggota Polsek Singaparna Polres Tasikmalaya sedang mengunjungi rumah korban perundungan bocah 11 tahun dan dipaksa bersetubuh dengan kucing oleh teman-temannya di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (20/7/2022). 

TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA - Berawal dari pesan yang beredar di Whatsapp, kasus meninggalnya seorang bocah sekolah dasar (SD) di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya akhirnya terungkap.

Bocah berusia 11 tahun itu meninggal karena mengalami depresi setelah rekaman dirinya yang dipaksa untuk melakukan perbuatan tak senonoh terhadap kucing disebarkan kepada teman-temannya.

Korban tidak mau makan dan minum sampai akhirnya meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit pada Minggu (18/7/2022) akhir pekan lalu.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan awalnya pihaknya mendapatkan video rekaman anak yang tengah dibully oleh teman-temannya.

Baca juga: POPULER Regional: Bocah SD Dipaksa Bersetubuh dengan Kucing | Pasutri Paksa ABG Berhubungan Intim

Setelah ditelusuri, bocah itu ternyata sudah meninggal.

Ternyata selama ini dia menjadi korban terduga perundungan teman-temannya.

"Kami awalnya ada laporan video rekaman anak yang dibully oleh teman-temannya dan dipaksa begitu dengan kucing. Setelah didatangi rumah korban, ternyata korban sudah meninggal," kata Ato Rinanto, Kamis (21/7/2022) pagi.

Kasus ini akan dilaporkan KPAID Kabupaten Tasikmalaya ke Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya.

Pihaknya mendampingi keluarga korban untuk pemulihan psikis dan juga berlaku pendampingan kepada para pelaku karena usianya masih anak-anak.

"Kami sedang melakukan pendampingan pemulihan psikis kepada keluarga korban. Kami juga sedang berkoordinasi dengan keluarga pelaku untuk pendampingan dalam kasus ini," ujar Ato.

Ato Rinanto, mengatakan, aksi pemaksaan terhadap korban berbuat tak senonoh dengan kucing juga diduga dalam konteks membully korban.

"Korban tak bisa berbuat banyak."

Baca juga: KPAI Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Bocah SD Meninggal Usai Dipaksa Setubuhi Kucing

"Pada saat yang sama kejadian itu divideo dan kemudian rekamannya menyebar di medsos," ujar Ato.

Hal itulah, yang membuat korban malu dan akhirnya mengalami depresi.

Halaman
1234
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved