Hasto Kristiyanto: Penguasan Iptek Unsur Terpenting Pastikan Indonesia Jadi Pemimpin Bangsa-bangsa

Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa Indonesia membangun tradisi intelektual sebagai syarat kepemimpinan intelektual bagi masa depan.

Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Doktor Ilmu Pertahanan Universitas Pertahanan RI Hasto Kristiyanto saat menyampaikan Kuliah Umum dengan Tema Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansi terhadap Pertahanan Negara di kampus Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Jumat (26/8/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Doktor Ilmu Pertahanan Universitas Pertahanan RI Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa Indonesia membangun tradisi intelektual sebagai syarat kepemimpinan intelektual bagi masa depan.

Menurutnya, sesuai teori geopolitik Soekarno, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta politik melalui diplomasi luar negeri merupakan unsur terpenting bagi kepentingan nasional Indonesia termasuk di dalam membangun kekuatan pertahanan negara.

Hal itu disampaikan Hasto saat menyampaikan Kuliah Umum dengan Tema "Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansi terhadap Pertahanan Negara" di kampus Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Jumat (26/8/2022).

“Peguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah faktor penentu dalam geopolitik Soekarno yang disebut sebagai Progressive Geopolitical Coexsistance yang menempatkan pusat kemajuan Indonesia itu dimulai dari kampus, dari keunggulan kualitas pendidikan nasional Indonesia,” kata Hasto.

Dia memaparkan hasil penelitiannya mengenai teori geopolitik Soekarno yang menjadi disertasi doktoralnya di Universitas Pertahanan RI.

Baca juga: Dihadapan Mahasiswa IAIN Pontianak, Hasto: Gemblenglah Diri Menjadi Pemimpin Bangsa Masa Depan

Dalam konteks itu juga pentingnya membangun tradisi intelektual di kalangan mahasiswa dan pelajar Indonesia. Dikatakannya Presiden Soekarno atau akrab disapa Bung Karno, disegani di dunia karena memiliki tradisi intelektual sejak muda dan visioner.

Sehingga, di masa pemerintahannya, Soekarno menjadi pemimpin di tingkat dunia termasuk berperan dalam kemerdekaan di sejumlah negara.

"Maka penting bagi mahasiswa, adalah bagaimana kita membangun semangat leadership kita, dan itu dimulai dari kampus, membangun kepemimpinan intelektual, yang menciptakan daya imajinasi masa depan, hingga lahirlah semangat juang," ujar Hasto.

Baca juga: Hasto Sebut Megawati Ajukan Nama Calon Menpan RB Lebih dari Satu

“Itulah geopolitik, suatu pengetahuan tentang keadaan, tentang kultur bangsa dan jati diri bangsa," lanjut dia.

Dari tradisi intelektual dan Iptek, menurut Hasto, bangsa Indonesia membangun diri dengan percaya pada kekuatan sendiri.

"Karena itulah penting memahami keadaan kita, geografi kita, kultur kita, penduduk kita, kekayaan alam kita dan kemudian memperjuangkan kepentingan nasional kita di tengah dialektika dunia, di tengah sistem internasional," katanya.

Dia pun mengajak para mahasiswa untuk tidak berpikiran sempit, tapi berpikiran terbuka dan berlomba menguasai ilmu pengetahuan.

"Dunia mahasiswa adalah dunia penggemblengan diri. Memiliki hasrat tak pernah puas dalam penguasan iptek, dalam meretas masa depan," ucap Hasto.

Baca juga: Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Tanggapi Deklarasi Koalisi Gerindra-PKB

Sementara itu, di awal sambutannya, Rektor Universitas Tanjungpura, Prof Dr Garuda Wiko, menyebut tema itu merupakan disertasi Hasto saat meraih gelar doktor di Universitas Pertahanan.

Dia pun memaparkan pesan Presiden Pertama RI Soekarno dalam pendirian Untan.

Pada perjalanan sejarah tanggal 26 Maret 1961, Presiden Soekarno hadir untuk melakukan pemancangan tiang pertama Universitas Daya Nasional yang saat ini dikenal dengan nama Universitas Tanjungpura.

"Dalam kesempatan pemancangan tiang pertama di Universitas Daya Nasional, presiden pertama RI Soekarno menulis pesan penting bahwa masyarakat adil dan makmur hanya dapat diselenggarakan dengan cucuran air keringat. Pesan kuat ini masih dirasakan relevansinya sampai era revolusi industri 4.0 saat ini. Tidak ada kemajuan tanpa kerja keras, tanpa kolaborasi dan gotong royong," kata Rektor Untan.

"Di fora internasional Presiden Soekarno dikenal sebagai pemikir geopolitik yang menjadi basis peran siginifikan Indonesia dalam pergaulan internasional," ucapnya.

KOMENTAR
© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved