Kemendikbudristek: Sungai Batanghari Berperan Dalam Akulturasi Kebudayaan

Ekspedisi Batanghari kali ini menitikberatkan pada perkenalan dan penyebarluasan budaya daerah yang dilalui aliran Sungai Batanghari.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Foto Aerial Jembatan Pedestrian dan Menara Gentala Arasy yang melintang diatas Sungai Batanghari, Jambi, Selasa (6/6/2017). Jembatan Gentala Arasy merupakan Jembatan Pedestrian yang menghubungkan Kota Seberang Jambi dengan Menara Gentala Arasy yang kini menjadi ikon baru Kota Jambi. Ekspedisi Batanghari kali ini menitikberatkan pada perkenalan dan penyebarluasan budaya daerah yang dilalui aliran Sungai Batanghari dengan berbagai festival. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek menggelar Festival Pamalayu yang menjadi etape pertama Ekspedisi Sungai Batanghari dalam rangkaian Kenduri Swarnabhumi.

Pada penutupan festival Pamalayu, dipentaskan drama Kolosal Dara Petak dan Dara Jingga.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengungkapkan Ekspedisi Batanghari kali ini menitikberatkan pada perkenalan dan penyebarluasan budaya daerah yang dilalui aliran Sungai Batanghari dengan berbagai festival Pamalayu.

"Ekspedisi Batanghari merupakan upaya pemajuan kebudayaan. Masyarakat akuatik sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari menyadari peradaban yang ada dan berkomitmen melestarikan budaya daerahnya," ucap Hilmar melalui keterangan tertulis, Jumat (26/8/2022).

Baca juga: 2 Anak Hanyut di Sungai Batanghari, Teman Korban Tak Bisa Menolong karena Kedalaman Air 10 Meter

Festival Pamalayu di Dharmasraya sendiri menjadi titik awal keberangkatan tim Ekspedisi Batanghari yang terdiri dari tim Kemendikbudristek, arkeolog, sejarawan, seniman, jurnalis, mahasiswa dan tokoh masyarakat.

Selain drama kolosal, rangkaian kegiatan kebudayaan yang diberi tajuk Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi.

Di antaranya adalah pemecahan rekor MURI memasak makanan dari 18 Kab/Kota selama acara berlangsung, pameran artefak koleksi museum Adityawarman, sejumlah lomba dan seminar.

Dalam drama tersebut, dikisahkan istana Raja Melayu Dharmasraya Srimad Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dikagetkan dengan kedatangan sejumlah perwira Ekspedisi Pamalayu.

Kabar yang berhembus bahwa armada siap tempur dari Jawa telah mendarat di pinggiran Sungai Batanghari.

Mereka diutus oleh Raja Singhasari Sri Kertanegara untuk meminta kesediaan Dharmasraya menjadi negeri bawahan Singhasari.

Drama tersebut digelar di Kompleks Candi Pulau Sawah dengan puluhan pemeran dari Sanggar Seni lokal Dharmasraya.

Sanggar tersebut, adalah Sanggar Dara Petak, Sanggar Dara Jingga, Sanggar Timbulun Indah, Sumaran Rumah Panjang, Kajanglako, Gadih Lareh, dan Sanggar Seni Sarai Sarumpun serta beberapa sanggar seni lainnya dibawah besutan sutradara Rama Suprapto.

Baca juga: Bus Berisi Rombongan Calon Jemaah Haji Merangin Kecelakaan di Batanghari 

Pemeran Dara Petak, Tiara Felany mengaku pertunjukkan ini adalah yang pertama baginya. Karena di dalamnya melibatkan drama dan dialog.

“Sebelumnya kami hanya menari dan menari saja,” jelasnya.

Drama Dara Petak Dara Jingga menjadi salah satu pentas budaya yang ditampilkan Kabupaten Dharmasraya.

Pertunjukan drama ini tak lain sebagai penghibur sekaligus pengingat bagi masyarakat akan salah satu sejarah yang menggambarkan kebesaran peran Sungai Batanghari dalam akulturasi kebudayaan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved