Pakar Sebut Kasus HIV di Kalangan Ibu Rumah Tangga Banyak Ditularkan Suami

Namun, saat seseorang terpapar HIV/AIDS bukan berarti kehidupannya berakhir. Banyak yang dapat hidup normal.

iStockphoto
Kenali gejala hiv 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pakar kesehatan sekaligus dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi (kanker) Prof Zubairi Djoerban mengungkapkan, mayoritas ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS berasal dari suami yang terlebih dahulu terinfeksi.

Hal itu merespons, banyaknya istri atau IRT di kota bandung yang positif HIV akibat perilaku suami yang suka "jajan".

"Ibu rumah tangga (IRT) juga kasihan. Jadi banyak banget yang terinfeksi dari suaminya," kata dia yang ditemui beberapa waktu lalu di gedung PB IDI, Jakarta Pusat.

Namun terlepas dari itu, ada kemungkinan juga IRT yang mengalami kekurangan ekonomi lalu menjadi pekerja seks komersial atau PSK, serta menjadi seorang pencandu narkoba.

Baca juga: Maraknya Kasus HIV, Pakar Epidemiologi Sarankan Pemerintah Segera Merespon

"Walaupun juga ada beberapa satu atau dua yang terinfeksi karena ada yang jadi pekerja seksual atau ada juga yang jadi pencandu narkoba. Cuman banyak yang terinfeksi dari suami," kata penemu kasus AIDS pertama di Indonesia ini.

Meski demikian ia menekankan, saat seseorang terpapar HIV/AIDS bukan berarti kehidupannya berakhir.

Seseorang yang terinfeksi dapat hidup normal dengan minum obat teratur, kontrol berkala ke dokter, maupun menjalankan hidup yang sehat.

"Sekarang ini semua pasien yang berobat teratur, yang tidak putus obat semua terkontrol baik," kata mantan ketua satgas PB IDI.

"Cukup banyak yang produktif di atas 20 tahun, ada beberapa yang diatas 35 tahun. Ada yang sehat 1-2 orang setelah mengkonsumsi obat selama 28 tahun," sambung Prof Zubairi.

Jadi artinya HIV AIDS bisa dikontrol dengan minum obat teratur, sehingga tidak lagi sakit, bisa menikah, bisa punya anak, dan anak tidak tertular.

"HIV/AIDS bisa ditata dengan manajemen yang baik. Tapi masalahnya adalah ada juga beberapa yang putus obat kalau ada yang putus obat itu bahaya. Tidak selalu fatal juga," ungkap dia.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved