Riset: Tiga Penyebab Bunuh Diri Terbanyak di Indonesia, Diantaranya Kesepian

Hari ini 10 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.

Pixabay
Ilustrasi keluarga sehat 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Hari ini 10 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.

Dalam rangka peringatan itu, yayasan kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri berbasis riset terdepan, Emotional Health for All Foundation (EHFA) merilis temuan bahwa angka kejadian bunuh diri di Indonesia yang tidak dilaporkan diperkirakan lebih dari 300 persen, atau angka sesungguhnya bisa minimal 4 kali lipat dari yang dilaporkan.

“Namun, ditemukan bahwa  dan hal ini merupakan prosentase tertinggi dari jumlah kejadian yang dilaporkan secara nasional di dunia,” ungkap Ketua EHFA Dr. Sandersan Onie, Jumat (9/9/2022).

Adapun faktor risiko bunuh diri termasuk masalah keluarga, masalah keuangan, dan kesepian

 “Meski demikian, terdapat sejumlah faktor protektif yang dapat mencegah terjadinya bunuh diri, meliputi komunitas, akses ke perawatan psikologis, serta agama,” ujar Onie.

Selain di Indonesia, masih banyak angka bunuh diri yang tidak dilaporkan di setiap negara, dan yang tercatat merupakan angka resmi vs angka perkiraan. 

Lebih lanjut Dr. Sandersan menjelaskan, tingkat laporan yang tidak tercatat karena beragam alasan termasuk perbedaan standar dan sistem pencatatan bunuh diri di rumah sakit.

Baca juga: 5 Bahaya Depresi yang Perlu Diwaspadai: Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Bunuh Diri

Juga banyak keluarga masih menyembunyikan kejadian bunuh diri akibat rasa malu dan stigma masyarakat.

Adapun provinsi yang menunjukkan kejadian bunuh diri tertinggi ditemukan di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Maluku Utara dan Kepulauan Riau. 

Sedangkan provinsi dengan tingkat upaya bunuh diri tertinggi ditemukan di Sulawesi Barat, Gorontalo, Bengkulu, Sulawesi Utara dan Kepulauan Riau.

“Untuk setiap kematian akibat bunuh diri, kemungkinan terdapat 8 hingga 24 kali upaya percobaan bunuh diri, dengan penyebab tertinggi diakibatkan oleh tekanan psikologis, penyakit kronis dan masalah keuangan,” jelas Dr. Sandersan.

Rekomendasi

Ia menyampaikan, sebagai upaya pengembangan program “Strategi Pencegahan Bunuh Diri Nasional”, tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah, meliputi: perlunya kebijakan nasional melalui kerjasama dengan institusi terkait; pengentasan moralisasi bunuh diri dari sisi agama;  peningkatan penelitian akademis secara terlatih dan sistemik; pembentukan asosiasi lintas disiplin sebagai pengawasan upaya pencegahan bunuh diri; melakukan intervensi dengan pembatasan sarana bunuh diri; meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akademis tentang bunuh diri sebagai upaya pencegahan bunuh diri berdasarkan situasi, kondisi dan kearifan lokal setempat. 

“Rekomendasi ini dibuat berdasarkan temuan data yang baru,” jelas Dr. Sandersan. 

Dibentuk Asosiasi Indonesia untuk Pencegahan Bunuh Diri (Indonesian Association for Suicide Prevention - INASP)

Ia menjelaskan bahwa Asosiasi Indonesia untuk Pencegahan Bunuh Diri akan menjadi sarana membangun jaringan para pemangku kepentingan di seluruh Indonesia, sebagai badan perwakilan nasional untuk Pencegahan Bunuh Diri Indonesia di Panggung Internasional, dan sebagai pusat data tentang bunuh diri yang andal, kini dapat dilihat pada situs Inasp.id, termasuk tingkat bunuh diri dan pencobaan bunuh diri setiap provinsi, dan data krusial lainnya yang belum pernah dibuka untuk umum. 

 “Asosiasi ini akan menjadi kumpulan peneliti, dokter, orang-orang dengan pengalaman langsung, pemimpin teknologi, jurnalis, dan banyak lagi, dimana para anggota akan berkumpul dalam konferensi nasional tahunan guna menyajikan penelitian, data baru, dan pendekatan untuk pencegahan bunuh diri,” jelas Dr. Sandersan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved