Kasus di Mahkamah Agung

KPK Minta Maaf Sebut Hakim Agung Kena OTT, Mengaku Masih Lakukan Ekspose

KPK memohon maaf terkait penyampaian bahwa yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) adalah seorang hakim agung. 

Editor: Wahyu Aji
Ilham Rian Pratama
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memohon maaf terkait penyampaian bahwa yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) adalah seorang hakim agung. 

KPK belum bisa memastikan siapa pihak yang terjaring OTT tersebut.

"Mohon maaf tentang hakim atau tidak sementara dipending dulu ya. Karena kita masih akan ekspose setelahnya saya jelaskan lebih detail," ujar Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron dalam pernyataannya kepada wartawan, Kamis(22/9).

Menurut Ghufron saat ini pihaknya masih terus melakukan pendalaman terkait OTT tersebut.

"Sampaikan KPK belum memastikan apakah hakim agung atau siapa masih didalami," kata dia.

Sebelumnya, diketahui Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) menggelar operasi tangkap tangan(OTT) secara paralel di Jakarta dan Semarang.

Salah satu pihak yang tercokok dalam giat tersebut disebut-sebut adalah seorang hakim agung di Mahkamah Agung(MA).

Bahkan, Ghufron sempat mengaku sedih ada hakim agung ditangkap lagi.

Dalam OTT tersebut diamankan pula sejumlah uang yang nominalnya hingga kini masih belum diketahui.

Sementara itu Mahkamah Agung (MA) mengaku belum mengetahui adanya operasi tangkap tangan (OTT) terhadap seorang hakim agung.

Mereka masih menunggu pernyataan resmi dari Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK) terkait hal tersebut.

Baca juga: KPK OTT Hakim Agung di Mahkamah Agung, Sejumlah Uang Diamankan, MA Tunggu Pernyataan Resmi

"Saya baru tahu dari media, kami masih menunggu keterangan resmi dari KPK," ujar Juru Bicara MA, Andi Samsan Nganro.

Komisi Yudisial yang dikonfirmasi juga mengaku sedang melakukan penelusuran dan verifikasi terkait penangkapan tersebut. Apakah benar ada hakim agung atau tidak dalam OTT tersebut.

"Sedang ditelusuri dan diverifikasi terlebih dahulu," ujar Juru Bicara Komisi Yudisial, Miki Ginting.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved