Respons Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Soal Hasil Survei: Berbahaya Itu Kalau Turun Gunung Terus

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto merespons hasil survei yang Charta Politika menyebut elektabilitas partainya menurun.

Penulis: Fersianus Waku
Editor: Adi Suhendi
Ist
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto merespons hasil survei yang Charta Politika menyebut elektabilitas partainya menurun. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fersianus Waku

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto merespons hasil survei yang Charta Politika menyebut elektabilitas partainya menurun.

Hasto mengatakan Ketua Umum Megawati Sukarnoputri telah meminta agar survei tak menjadi pegangan dikarenakan terkadang naik lalu turun.

"Ya itu makanya survei arahan Ibu (Megawati) untuk tidak dijadikan pegangan karena bisa naik, turun," kata Hasto di sela-sela rapat koordinasi kepala daerah PDIP di kantor Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (22/9/2022).

Namun, Hasto berkelakar yang berbahaya adalah jika turun gunung.

Kendati demikian, ia tak menjelaskan turun gunung yang dimaksud.

Baca juga: PDIP Usul Nomor Urut Parpol Tak Diubah, Fadli Zon: Tidak Prinsipil Sebaiknya Ikuti Aturan

"Yang berbahaya itu kalau turun gunung terus, itu yang berbahaya," ujar Hasto.

Lebih lanjut, Hasto menuturkan hasil survei merupakan sebuah dinamika biasa.

"Kalau (hasil survei) itu ya dinamika itu suatu hal yang biasa tetapi kita melihat bahwa tren dari rata-rata elektoral PDIP ya 22 sampai 26, itu range-nya," ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat SBY mengatakan ada tanda-tanda pemilihan umum (pemilu) 2024 tidak jujur dan adil.

Baca juga: Megawati Beri Arahan ke Ganjar Dkk di Rapat Koordinasi Kepala Daerah PDIP

Hal itu disampaikan SBY dalam rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Demokrat di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

SBY mengatakan dirinya terpaksa turun gunung menghadapai pemilu 2024 dikarenakan adanya tanda-tanda pemilu tidak jujur.

"Para kader mengapa saya harus turun gunung menghadapai pemilu 2024 mendatang. Saya mendengar mengetahui bahwa ada tanda-tanda pemilu 2024 bisa tidak jujur dan tidak adil," kata SBY dalam sebuah video yang beredar seperti dikutip Tribunnews.com, Jumat (16/9/2022).

Menurut SBY, ada yang menginginkan pilpres 2024 hanya diikuti dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved