Kenang Brigadir J, Samuel Hutabarat: Kalau Sehari Tak Telepon Mamaknya, Kurasa Enggak Bisa Tidur Dia

Samuel Hutabarat tahu betul karakter Brigadir Yosua atau Brigadir J, anaknya. Menurut dia, Yosua anak yang polis, penurut, dan penyayang.

Editor: Willem Jonata
Tribunjambi.com/Aryo Tondang
Samuel Hutabarat menunjukkan foto anaknya, Brigadir J, yang meninggal dalam penembakan di rumah Irjen Pol Ferdy Sambi 8 Juli 2022. Rencananya jenazah Brigadir J akan diautopsi pagi ini. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebagai ayah, Samuel Hutabarat tahu betul karakter Brigadir Yosua atau Brigadir J, anaknya.

Menurut dia, almarhum adalah anak yang polos, penurut, dan sayang terhadap keluarga.

"Empat anak kita, dua laki-laki-laki, dua perempuan. Di antara empat orang ini, bukan lantaran dia sudah almarhum, inilah anak yang paling polos, yang paling penurut," kata Samuel dalam sebuah acara refleksi yang ditayangkan oleh channel Youtube Bonapasogit Studio.

Sifat penurut Brigadir J sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Baca juga: Polri Tanggapi soal Dugaan Keterlibatan Kakak Asuh Ferdy Sambo di Kasus Kematian Brigadir J

"Sampai SMA, dia menurut sama mamaknya. Sampai masuk polisi pun dia sangat sayang sama mamaknya, kami semua, apalagi sama adik-adiknya."

"Waktu dia di Jakarta, kalau tidak diteleponnya mamaknya sekali sehari, kurasa enggak bisa tidur (dia)," lanjut Samuel.

Makanya, saat mendengar Brigadir J tewas dalam baku tembak di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, yang saat itu menjabat Kadiv Propam Polri, Samuel sama sekali tak percaya.

"Anak kami semasa hidupnya sangat penurut, sangat penyayang, kami berkeyakinan bahwa saat kejadian tidak terjadi tembak-menembak. pasti ditembak," ucap Samuel.

Samuel juga meyakini bahwa tudingan pelecehan terhadap Putri Candrawathi, istri ferdy Sambo, yang dialamatkan pada Brigadir J anaknya adalah fitnah.

Sebab, menurut Samuel, sejak duduk di bangku SMA di Sungai Bahar, Jambi, anaknya sama sekali tak punya waktu untuk terjebak pergaulan bebas.

Kegiatan Brigadir J kala itu pun sangat padat. Khususnya di bidang kerohanian dan olahraga.

Saat melihat kondisi jenazah dan adanya kecurigaan bahwa anaknya meninggal dunia secara tidak wajar, Samuel bingung mengadu kepada siapa.

Ia merasa tidak sanggup apabila harus ke Jakarta untuk menindaklajuti ketidakwajaran tersebut. Ada perasaan putus asa dalam benaknya.

Baca juga: IPW Sebut Ferdy Sambo Bisa Bebas Demi Hukum dari Tahanan, Ini Alasannya

"Memang ada waktu itu satu orang wartawan (bilang), apakah bapak tidak memproses kematian anak bapak ini. Saya bilang, bagaimana saya mau cari pengacara, keadaan saya pun begini, apalagi pengacara tingkat nasional di Jakarta, tidak mungkin, enggak sanggup saya, jadi bagaimana persoalan ini."

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved