Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Menpora Janji Tindak Tegas Pihak yang Bertanggungjawab

Menpora mengatakan kejadian kerusuhan tersebut harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak sehingga tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hasanudin Aco
tribunnews.com/alfarizyAF
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali saat diwawancarai usai bermain tenis di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (12/9/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainuddin Amali mengatakan telah berkoordinasi dengn Kapolri Jenderal Listyo Prabowo dan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan untuk mengambil langkah tegas penanganan secara cepat dan tepat terhadap kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang yang merenggut 129 nyawa manusia.

“Saya berharap kita harus mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan pertandingan sepakbola (baik kompetisi maupun turnamen) agar tragedi Kanjuruhan ini tidak terulang lagi di masa depan,” kata Amali saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (2/10/2022).

Baca juga: Komnas HAM Dalami Aturan FIFA dan PSSI Serta Penggunaan Gas Air Mata Saat Tragedi Kanjuruhan

Menpora mengatakan kejadian kerusuhan tersebut harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak sehingga tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Tragedi di Kanjuruhan harus menjadi yang terakhir dalam sepakbola di tanah air.

“Kepada mereka yang harus bertanggung jawab tentu harus bisa mempertanggung jawabkan sesuai aturan yang berlaku (aturan FIFA, aturan  PSSI dan aturan-aturan lainnya yang berlaku di negara ini),” katanya.

Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang antara suporter dengan aparat, memakan korban jiwa hingga lebih dari 100 orang.

Kerusuhan terjadi usai Arema FC takluk 3-2 dari sang tamu Persebaya Surabaya, Sabtu (1/9/2022) malam.

Setelah itu terlihat suporter mulai masuk ke area lapangan dan dihadang oleh aparat keamanan.

Kerusuhan terjadi akibat ribuan dari suporter Aremania turun ke lapangan, begitu di lapangan mereka mendapatkan hadangan dari aparat yang berjaga.

Dalam penanganan itu, terlihat pihak kepolisian yang bertugas menggunakan gas air mata untuk mengurai suporter, yang diduga pula ini jadi penyebab banyaknya korban jiwa berjatuhan.

Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta mengatakan justru penggunaan gas air mata sudah sesuai prosedur.

Pihak kepolisian menggunakan gas air mata karena suporter sudah bertindak anarkis dan masuk ke area lapangan.

Setelah penembakan gas air mata suporter berhamburan ke pintu 12 dan membuat area itu mengalami penumpukan.

“Saat terjadi penumpukan, itu jadi banyak yang mengalami sesak napas,” kata Nico Afinta saat konferensi pers, Minggu (2/20/20220.

“Seandainya suporter mematuhi aturan, peristiwa ini tidak akan terjadi, semoga tidak terjadi lagi peristiwa semacam in,” sambungnya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved