Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Pemicu Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan versi Aremania Bantur: Berawal 2 Suporter Minta Foto

Slamet mengungkapkan dirinya sudah melarang petugas keamanan untuk mengizinkan dua suporter Arema FC untuk berfoto dengan pemain.

Surya Malang/Purwanto
Kericuhan suporter Areman FC yang bentrok melawan polisi buntut kekalahan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022) malam. Dalam bentrok ini polisi menembakkan gas air mata dan 127 suporter termasuk 2 polisi dilaporkan tewas. Slamet mengungkapkan dirinya sudah melarang petugas keamanan untuk mengizinkan dua suporter Arema FC untuk berfoto dengan pemain. 

TRIBUNNEWS.COM - Koordinator wilayah (Korwil) Aremania Bantur The Black Lion, Slamet Sanjoko membeberkan kronologi kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan seusai pertandingan Arema FC melawan Persebaya pada Sabtu (1/10/2022).

Slamet mengungkapkan tragedi berdarah tersebut dipicu dari dua orang suporter Arema FC yang meminta foto dengan pemain seusai pertandingan.

"Katanya mau foto setelah akhir pertandingan. Mau foto sama pemain itu," ujarnya dikutip dari YouTube Surya, Senin (3/10/2022).

Namun, kata Slamet, dirinya telah meminta agar petugas keamanan melarang dua suporter tersebut untuk masuk ke lapangan dan berfoto bersama pemain Arema FC.

Baca juga: Sejumlah Anak Jadi Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan, KPAI Soroti Penggunaan Gas Air Mata

Permintaan tersebut dilakukan Slamet demi menjaga kondusifitas suasana Stadion Kanjuruhan pasca kekalahan dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3.

"Jangan (mengizinkan suporter masuk lapangan) pak, ini suasananya gak enak. Kita abis kalah dari Persib, habis itu dari Persebaya."

"Memang kita terima (kekalahan) sih. Rasa kecewa pasti ada. Nanti memicu yang lain-lain itu yang sudah lempar-lempar," jelas Slamet.

Foto ini diambil pada 1 Oktober 2022 menunjukkan anggota tentara Indonesia mengamankan lapangan setelah pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur. - Sedikitnya 127 orang tewas di sebuah stadion sepak bola di Indonesia pada akhir 1 Oktober ketika para penggemar menyerbu lapangan dan polisi merespons dengan gas air mata, yang memicu penyerbuan, kata para pejabat. (Photo by AFP)
Foto ini diambil pada 1 Oktober 2022 menunjukkan anggota tentara Indonesia mengamankan lapangan setelah pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur. - Sedikitnya 127 orang tewas di sebuah stadion sepak bola di Indonesia pada akhir 1 Oktober ketika para penggemar menyerbu lapangan dan polisi merespons dengan gas air mata, yang memicu penyerbuan, kata para pejabat. (Photo by AFP) (AFP/STR)

Namun lantaran salah satu suporter tersebut terus memaksa untuk masuk lapangan, dua petugas keamanan pun mengizinkan.

"Akhirnya dia (suporter yang ingin masuk) maksa, dibukain lah sama petugas, dua (suporter) itu," katanya.

Setelah diizinkan oleh petugas keamanan, Slamet mengatakan dua suporter Arema FC itu justru tidak dapat berfoto dengan pemain Singo Edan.

Baca juga: Ketua Umum Projo Menilai Manajemen Pengendalian Suporter Saat Kerusuhan Kanjuruhan Sangat Berlebihan

Menurutnya, pemain Arema FC justru lari dan terjadilah bentrok sesaat setelah itu.

"Gak tahu penangkapan pemain Arema gimana. Dia mendekat, pemain Arema lari. Kita lihat dari kejauhan, dan bentrok dengan petugas," jelasnya.

"Di situ pemicunya yang dari tribun Timur dan tribun skor, naik semua," imbuh Slamet.

Aksi dua suporter itu memicu pendukung lain untuk memasuki area lapangan.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved