Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Hasil Investigasi Kanjuruhan Komnas HAM: Gas Air Mata Ditembakkan Pertama Kali Pukul 22.08 WIB

Menurut hasil investigasi Kanjuruhan yang dilakukan Komnas HAM, terungkap gas air mata ditembakkan pertama kali pada pukul 22.08 WIB.

Editor: Miftah
KOMPAS.com/SUCI RAHAYU
Suasana di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, seusai laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 bertajuk derbi Jawa Timur, Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam. Menurut hasil investigasi Kanjuruhan yang dilakukan Komnas HAM, terungkap gas air mata ditembakkan pertama kali pada pukul 22.08 WIB. 

TRIBUNNEWS.COM - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan gas air mata saat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022), pertama kali ditembakkan pada pukul 22.08.59 WIB.

Gas air mata itu diarahkan ke tribun selatan hingga memicu kepanikan penonton.

Terkait hal itu, Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, mengatakan tim sedang melakukan pendalaman.

"Gas air mata pertama kali ditembakkan ke tribun selatan sekitar pukul 22.08.59 WIB dan tim sedang mendalami titik krusial yang mengakibatkan banyaknya korban meninggal."

"Hal ini yang memicu kepanikan penonton, dan muncul dinamika di lapangan menjadi ricuh," urainya dalam konferensi pers hasil investigasi tragedi Kanjuruhan, Rabu (12/10/2022), dikutip dari tayangan Breaking News KompasTV.

Choirul Anam menyebut, tak ada indikasi kericuhan saat suporter turun ke lapangan usai laga Arema FC vs Persebaya.

Baca juga: Hasil Investigasi Kanjuruhan, Komnas HAM: Pintu Tribun 13 Terbuka, Kami Punya Video Kunci

Ia mengatakan, berdasarkan keterangan langsung suporter dan pemain Arema, Aremania turun ke lapangan hanya untuk memberi dukungan kepada jagoan mereka yang kalah bertanding.

Bahkan, kata Choirul Anam, pada menit 14-20 setelah peluit tanda pertandingan selesai dibunyikan, situasi di Stadion Kanjuruhan masih terkendali.

"Sekitar 14-20 menit pasca-peluit pancang tanda selesai (pertandingan) dibunyikan, kondisi di Stadion Kanjuruhan, Malang, masih terkendali."

"Pemain Arema kemudian menyampaikan permintaan maaf pada Aremania yg berada di Stadion Kanjuruhan," terang Choirul Anam.

"Selanjutnya, saat pemain Arema menuju ruang ganti, sejumlah Aremania menghampiri pemain dan memeluk pemain dengan tujuan memberikan semangat," imbuhnya.

Baca juga: HASIL Investigasi Kanjuruhan: Komnas HAM Sebut Kapolres Malang Sempat Usul Jadwal Diubah

Lebih lanjut, Choirul Anam mengatakan gas air mata menjadi pemicu suporter panik hingga berebutan keluar Stadion Kanjuruhan.

Hal itulah, katanya, yang menyebabkan ratusan korban meninggal dan mengalami luka-luka.

"Gas air mata menjadi pemicu utama kepanikan para suporter, yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban meninggal dan korban luka-luka," ujarnya.

(Tribunnews.com/Pravitri Retno W)

Sumber: TribunSolo.com
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved