Jumat, 29 Agustus 2025

PBNU dan PKB Memanas

Jazilul Fawaid Sebut Gus Yahya dan Gus Ipul Biang Kerok Perselisihan PKB-PBNU

Jazilul Fawaid sebut Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul terus mencoba mengganggu PK

|
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews.com/ Igman Ibrahim
Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/7/2024). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid menegaskan PKB dan PBNU sejatinya tidak pernah memiliki permasalahan satu sama lain.

Hanya saja, ada dua orang petinggi PBNU yang dianggap terus mencoba mengganggu PKB.

Jazilul mengatakan kedua orang tersebut adalah Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dan Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Keduanya dinilai terus berupaya menggembosi PKB.

"Sebenarnya PKB ini sudah menghormati apa yang menjadi hak PBNU untuk menjaga jarak dari seluruh partai politik. Tapi faktanya. Misalnya Gus Yahya dan Gus Ipul, PBNU itu selalu menggembosi. Mengganggu apa yang dilakukan PKB," kata Jazilul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/7/2024).

Jazilul mengingatkan bahwa konsolidasi kultural antara PKB dan NU sejatinya sudah berjalan dengan baik.

Ia menyatakan tindakan Gus Yahya dan Gus Ipul justru melecehkan suara Nahdliyin yang sudah memilih PKB.

Baca juga: Panas Dingin PBNU-PKB hingga Nyerempet ke Menteri Agama dan Istri Cak Imin

"PKB itu tidak pernah merasa punya masalah dengan Gus Ipul, dengan Gus Yahya. Nggak pernah punya masalah. Lihat saja di bawah itu, struktur MWC, struktur PAC PKB, MWC NU, tidak pernah ada masalah. Apa yang mau didudukkan? Gak pernah ada masalah," ungkapnya.

Ia pun mengingatkan bahwa PKB terbukti telah memiliki prestasi pada Pemilu 2024.

Di antaranya, kenaikan kursi anggota DPR RI dari PKB dari 58 menjadi 68 orang.

Baca juga: PKB Bantah Pernyataan Gus Yahya Soal Pansus Haji Bernuansa Politis, PBNU Diminta Tak Ikut Campur

"Menurut saya dan perlu saya ingatkan warga Nahdlatul Ulama itu sudah cerdas melihat sepak terjang pemimpinnya. Apa itu tidak didengar? Apa itu tidak dibaca? Keluhan-keluhan dari para warga Nahdliyyin. Itu kan banyak sekali. Masa budeg, masa gak didengar," pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan