Kamis, 30 April 2026

Cendekiawan Yudi Latif Serukan Rekonstruksi Identitas Bangsa Lewat Pancasila

Menurut Yudi, kolonialisme tidak hanya menjajah secara fisik, tetapi juga membentuk watak inferior dan mental terjajah

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Istimewa
HUT KE-15 ALIANSI KEBANGSAAN - Merayakan hari jadinya yang ke-15 tahun, Aliansi Kebangsaan menggelar syukuran sekaligus peluncuran buku berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?” karya Dewan Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif pada Rabu (29/10/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Cendekiawan Yudi Latif menyerukan rekonstruksi jati diri bangsa agar Indonesia kembali berperan di panggung dunia. 
  • Dalam peluncuran bukunya “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?”, Yudi menegaskan kontribusi besar Nusantara—dari teknologi maritim hingga nilai kemanusiaan Pancasila—selama ini terkubur kolonialisme. 
  • Ia menilai Pancasila adalah sumbangan moral Indonesia bagi dunia, sekaligus jembatan antara tradisi dan modernitas di tengah krisis global.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cendekiawan kebangsaan Yudi Latif menyerukan pentingnya rekonstruksi jati diri bangsa Indonesia agar dapat kembali menempatkan diri secara sejajar di panggung dunia.

Seruan tersebut disampaikan dalam peluncuran bukunya berjudul Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia? yang digelar bertepatan dengan peringatan 15 tahun Aliansi Kebangsaan, di Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, Ketua Dewan Pembina Nurcholis Madjid Society Ori Komariah Madjid, serta Pendiri Yayasan Dana Darma Pancasila Ir. Aburizal Bakrie.

Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Menurut Yudi, selama berabad-abad kontribusi besar bangsa Indonesia terhadap peradaban dunia terkubur oleh dominasi kolonialisme yang menghegemoni pandangan dunia dan mencabut masyarakat dari akar identitasnya.

“Kita pernah menjadi bangsa pelopor dalam banyak hal — mulai dari teknologi maritim, arsitektur, hingga sistem sosial yang berkeadilan. Namun sejarah kolonial membuat kita seolah hanya menjadi konsumen dari hasil peradaban bangsa lain,” ujarnya.

Baca juga: Negara Hukum Pancasila: Formulasi Negara Berketuhanan

Buku setebal 750 halaman tersebut merupakan hasil riset intensif selama 3 tahun.

Di dalamnya, Yudi menelusuri berbagai sumbangan Nusantara terhadap dunia: mulai dari perahu samudra yang menghubungkan peradaban kuno, Candi Borobudur sebagai keajaiban arsitektur, hingga nilai kemanusiaan yang terwujud dalam Pancasila.

“Selama ini sejarah dunia ditulis dari sudut pandang penjajah. Sudah saatnya kita menulis ulang sejarah kita sendiri — dari perspektif bangsa yang berdaulat,” tegasnya.

Pancasila: Sumbangan Moral Indonesia untuk Dunia

Lebih jauh, Yudi menilai Pancasila bukan hanya ideologi bangsa, tetapi juga sumbangan moral Indonesia bagi dunia.

Nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan gotong royong yang terkandung di dalamnya diyakini dapat menjembatani tradisi dan modernitas di tengah krisis global.

“Setelah menulis empat buku tentang Pancasila dan kebangsaan, saya menyadari bahwa yang belum saya tulis adalah Pancasila untuk dunia,” katanya.

Menurut Yudi, kolonialisme tidak hanya menjajah secara fisik, tetapi juga membentuk watak inferior dan mental terjajah yang masih terasa hingga kini.

“Kita perlu memulihkan kepercayaan diri bangsa dengan mengenali kembali sejarah dan kontribusi besar kita. Penulisan sejarah yang bebas dari bias adalah langkah pertama menuju kemerdekaan berpikir,” tambahnya.

Pancasila, lanjut Yudi, pernah menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa terjajah untuk berhimpun dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung guna melawan penjajahan. Semangat itu, katanya, masih relevan untuk menghadapi bentuk-bentuk neokolonialisme baru di era globalisasi.

Peradaban Nusantara dan Jejak Inovasi Dunia

Selain Pancasila, Yudi juga menegaskan peran besar kekayaan alam dan teknologi masyarakat Indonesia dalam perjalanan sejarah dunia.

Sejak era sebelum Masehi hingga abad ke-16, Indonesia disebut sebagai episentrum teknologi maritim dunia.

“Saat bangsa lain belum berani mengarungi samudra, nenek moyang kita sudah membuat jenis-jenis perahu untuk menyeberangi lautan dan menciptakan teknologi penangkapan ikan di laut dalam,” papar Yudi.

Di bidang arsitektur, Indonesia dikenal dengan rumah tahan gempa dan pembangunan candi-candi yang memuncak pada Candi Borobudur.

“Borobudur dibangun dengan presisi tinggi menggunakan batu andesit. Itu hanya mungkin dilakukan dengan sistem komputasional, tetapi pada masa itu dikerjakan secara manual,” ujarnya.

Membangun Kepercayaan Diri Bangsa

Yudi menilai kontradiksi antara kejayaan masa lalu dan kondisi bangsa saat ini tidak terlepas dari dampak kolonialisme yang mencabut akar identitas masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan rekonstruksi jati diri bangsa melalui penulisan sejarah yang objektif dan berpihak pada kebenaran.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan, dunia masih mengenal Indonesia secara terbatas — seringkali hanya dari bencana dan konflik.

“Penulisan buku mengenai signifikansi Indonesia dalam perkembangan dunia menjadi krusial. Dunia perlu mengenal Indonesia dari kebijaksanaan dan kontribusinya,” tegasnya.

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo berharap karya Yudi dapat membuka cakrawala masyarakat untuk memahami signifikansi kekayaan alam, kemanusiaan, dan peradaban Nusantara. 

“Dengan mengenali sejarah dan kejayaan masa lalu, kita memperkuat nasionalisme dan identitas kolektif bangsa,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Senator Irman Gusman yang menyebut buku Yudi hadir pada momentum yang tepat.

“Pemikiran dalam buku ini menjadi energi intelektual untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa Indonesia,” tutupnya.

 
Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia? Karya Yudi Latif Diluncurkan di HUT ke-15 Aliansi Kebangsaan

 

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved