Banjir Bandang di Sumatera
Banjir Bandang di Sumatra, Greenpeace Sudah Ingatkan Sejak 10 Tahun Lalu, tapi Tak Didengar
Greenpeace Indonesia sudah memprediksi tentang potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak 10 tahun lalu.
Kawasan ini mencakup sekitar 250.000 hektare dan berfungsi sebagai habitat penting bagi spesies langka seperti orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), harimau Sumatra, tapir, dan pangolin.
Selain nilai biodiversitasnya, ekosistem ini memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan hidrologi di Pulau Sumatra, terutama sebagai "benteng terakhir" hutan di Sumatra Utara yang melindungi daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru.
Kerusakan Ekosistem Batang Toru menuai sorotan tajam karena dianggap sebagai salah satu faktor terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra.
Ekosistem atau DAS Batang Toru sendiri merupakan satu dari sebagian besar DAS di Sumatra yang kini mengalami kerusakan parah.
“Mayoritas DAS di Pulau Sumatera telah kritis–dengan tutupan hutan alam kini kurang dari 25 persen. Sedangkan secara keseluruhan kini tinggal 10-14 juta hektare hutan alam atau kurang dari 30 persen luas Pulau Sumatera yang 47 juta hektare," kata peneliti senior Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, dikutip dari rilis resmi Greenpeace Indonesia, Selasa (2/12/2025).
DAS Batang Toru rusak parah lantaran dibebani berbagai macam perizinan untuk industri rakus lahan–termasuk PLTA Batang Toru–yang lantas membabat hutan, sekaligus menggusur habitat orang utan Tapanuli.
Berikut hasil analisis Greenpeace tentang kawasan hutan di area DAS Batang Toru:
1. Selama periode 1990-2022, telah terjadi deforestasi seluas 70 ribu hektare atau 21 persen dari luas DAS. Kini luas hutan alam yang tersisa sebesar 167 ribu hektare atau 49 persen dari luas DAS.
2. Areal perizinan berbasis lahan dan ekstraktif secara keseluruhan seluas 94 ribu hektare atau 28 persen. Sebagian besar berupa perizinan berusaha pemanfaatan hutan, wilayah izin usaha pertambangan, dan perkebunan kelapa sawit.
3. Total potensi erosi saban tahun sebesar 31,6 juta ton. Sekitar 56 persen berasal dari areal rawan erosi >180 ton/hektare/tahun.
4. Bagian hulu sudah beralih fungsi menjadi pertanian kering, sedangkan hilirnya beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan industri bubur kertas. Hutan alamnya hanya berada di bagian tengah DAS.
UPDATE JUMLAH KORBAN BANJIR BANDANG DI SUMATRA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memberikan update atau pembaruan mengenai jumlah korban dan kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra.
Menurut update rekapitulasi di situs gis.bnpb.go.id pada Selasa (2/12/2025) petang pukul 19.59 WIB, jumlah korban tewas dalam banjir dan tanah longsor di Sumatera kini tercatat 744 jiwa.
Sementara, ada 551 orang yang dilaporkan hilang.
Sebanyak 2.564 orang mengalami luka-luka.
Total, ada 3,3 juta warga yang terdampak, serta 1,1 juta warga harus mengungsi.
Untuk data kerusakan di 50 kabupaten terdampak, sekitar lebih dari 3.600 unit rumah mengalami rusak berat, 2.100an unit rumah rusak sedang, dan 3.700an rumah mengalami rusak ringan.
Lalu, ada 323 fasilitas pendidikan rusak, dan 299 unit jembatan rusak.
(Tribunnews.com/Rizki A.)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kondisi-pascabanjir-wilayah-di-Desa-Hotagodang.jpg)