Dari Risiko Likuefaksi hingga Degradasi Lahan: Pakar Minta Kebijakan Tanah Masuk Prioritas Nasional
Peringatan Hari Tanah Sedunia 2025 menjadi momentum refleksi atas hubungan antara pembangunan nasional.
Ringkasan Berita:
- HITI menegaskan pembangunan harus mempertimbangkan kemampuan tanah untuk mencegah bencana seperti banjir, longsor, dan likuefaksi.
- Pemerintah dan pakar menggarisbawahi pentingnya kebijakan kesehatan tanah sebagai dasar perencanaan pembangunan nasional.
- Perayaan Hari Tanah Sedunia 2025 melibatkan ratusan peserta, lomba ilmiah, dan penyusunan rekomendasi mitigasi berbasis ilmu tanah.
Hasiolan EP/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Tanah Sedunia 2025 menjadi momentum refleksi atas hubungan antara pembangunan nasional dan kondisi tanah yang semakin tertekan.
Ketua Umum Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI), Husnain PhD, mengingatkan bahwa sejumlah bencana hidrometeorologi di Indonesia berakar pada keputusan pembangunan yang tidak mempertimbangkan kemampuan dan kesesuaian lahan.
“Daya dukung tanah terhadap air, risiko likuefaksi, hingga karakteristik bentang lahan harus diketahui sebelum sebuah wilayah dibangun,” ujar Husnain, Kamis (4/12/2025).
Ia menegaskan, peradaban akan rapuh apabila tanah diperlakukan sekadar ruang kosong tanpa mempertimbangkan kapasitas ekologisnya.
Tema peringatan tahun ini—Healthy Soils for Healthy Cities—ditetapkan FAO untuk menyoroti peran tanah bukan hanya bagi pertanian, tetapi juga bagi ketahanan kota.
Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas, Jarot Indarto, mengatakan bahwa pemerintah tengah menyusun kebijakan kesehatan tanah (soil health policy) sebagai dasar perencanaan pembangunan.
“Fokus ilmu tanah kini meluas ke pembangunan nasional yang lebih komprehensif. Perencanaan wilayah harus berbasis pada kondisi fisik lahan,” ujarnya.
Dari perspektif global, Vikas Choudhary, ekonom dari World Bank, menilai tanah adalah fondasi sistem pangan, ekosistem, dan kehidupan manusia.
Ia menekankan pentingnya kebijakan negara untuk menjaga kesehatan tanah sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan.
Esai Mengenai Tanah
Perayaan Hari Tanah Sedunia di Indonesia sendiri baru dimulai pada 2017 dan terus berlangsung tiap tahun.
Tahun ini, sebanyak 705 peserta mengikuti rangkaian lomba yang meliputi selidik cepat tanah, esai, vlog, puisi, hingga menggambar. Lomba esai menjadi kategori dengan peserta terbanyak, yaitu 235 peserta, jumlah tertinggi sejak perayaan dimulai.
Ketua panitia, Dr. Ladiyani Retno Widowati, mencatat meningkatnya minat publik dari berbagai bidang, tidak hanya pertanian.
“Peserta tahun ini datang dari latar belakang sosial, ekonomi, pariwisata hingga agama. Tanah kini dipandang sebagai isu lintas sektor,” ujarnya.
Sumber: Tribunnews.com
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of
Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/HITI-WSD.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.