Tanggal 11 Desember 2025 Memperingati Hari Apa? Ada 3 Peringatan Penting
Setiap tanggal 11 Desember, terdapat sejumlah peringatan penting yang diperingati di berbagai belahan dunia maupun di Indonesia.
Ringkasan Berita:
- Tanggal 11 Desember 2025 memperingati 3 peringatan penting di kalangan Nasional dan Internasional.
- Berbagai tema dalam peringatan 11 Desember 2025 yaitu pelestarian alam, perlindungan anak, dan penghormatan sejarah.
- 3 peringatan tersebut adalah Hari Gunung Internasional, Peringatan Ulang Tahun UNICEF dan Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan.
TRIBUNNEWS.COM - Setiap tanggal 11 Desember, terdapat sejumlah peringatan penting yang diperingati di berbagai belahan dunia maupun di Indonesia.
Pada hari ini, tiga momen bermakna hadir secara bersamaan yaitu Hari Gunung Internasional, peringatan ulang tahun UNICEF, serta Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan, yang masing-masing membawa pesan kuat tentang lingkungan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap sejarah bangsa.
Hari Gunung Internasional mengingatkan kita akan peran pegunungan sebagai penjaga keseimbangan bumi, mulai dari penyedia air, pusat keanekaragaman hayati, hingga penopang kehidupan jutaan masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan.
Di sisi lain, ulang tahun UNICEF menjadi ajakan global untuk kembali meneguhkan komitmen dalam melindungi hak anak.
Organisasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini telah berdiri sebagai garda terdepan dalam isu kesehatan, pendidikan, perlindungan, dan kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia.
Sementara itu, Indonesia memperingati Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan sebagai bentuk penghormatan terhadap puluhan ribu warga sipil yang menjadi korban tragedi kekerasan kolonial di masa awal kemerdekaan.
3 Peringatan Penting pada Tanggal 11 Desember 2025
1. Hari Gunung Internasional
Setiap 11 Desember, dunia merayakan Hari Gunung Internasional sebagai momentum untuk mengingat peran krusial pegunungan dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia.
Perhatian dunia terhadap pentingnya pegunungan mulai menguat pada awal 1990-an, dikutip dari National Day.
Pada Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan tahun 1992, isu pegunungan diangkat secara resmi melalui laporan Managing Fragile Ecosystems: Sustainable Mountain Development.
Baca juga: Kumpulan Ucapan Hari Gunung Internasional 11 Desember 2025, Berikut Sejarahnya
Dokumen tersebut menekankan bahwa pegunungan harus dilindungi karena menjadi rumah bagi jutaan penduduk serta sumber utama air bersih dunia.
Keseriusan ini berlanjut ketika tahun 2002 dicanangkan sebagai Tahun Internasional Pegunungan.
Setahun kemudian, pada 2003, Majelis Umum PBB menetapkan 11 Desember sebagai Hari Gunung Internasional, dengan FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) sebagai koordinator globalnya.
Tema 2025: “Glaciers matter for water, food and livelihoods in mountains and beyond”
Tahun 2025 bertepatan dengan Tahun Internasional Pelestarian Gletser, sehingga peringatan tahun ini menyoroti pentingnya gletser bagi air bersih, pangan, dan kehidupan masyarakat pegunungan, dikutip dari fao.org.
Gletser menyimpan sekitar 70 persen air tawar bumi.
Namun, pemanasan global membuat gletser mencair lebih cepat dari sebelumnya, menyebabkan ancaman bencana seperti banjir dan longsor akibat jebolnya danau gletser
Gangguan pada pertanian dan listrik tenaga air
Hilangnya situs sakral yang dihormati masyarakat adat
Hari Gunung Internasional 2025 menjadi seruan agar negara-negara meningkatkan riset, kolaborasi, dan kebijakan nyata untuk melindungi gletser, penyangga kehidupan yang kini berada di ambang krisis.
2. Peringatan Ulang Tahun UNICEF
Tanggal 11 Desember juga menandai berdirinya UNICEF, organisasi yang telah puluhan tahun berada di garis depan dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia.
Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, jutaan anak di Eropa dan Asia terjerumus dalam kelaparan, penyakit, dan kehilangan keluarga.
Untuk menjawab krisis ini, pada 1946 PBB membentuk International Children’s Emergency Fund (ICEF) sebagai lembaga khusus penanganan anak dan ibu yang terdampak perang.
Masih di tahun yang sama, Majelis Umum PBB mengesahkan United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) sebagai badan resmi untuk memperkuat misi kemanusiaan tersebut, dikutip dari National Today.
Pada 1950, mandat UNICEF diperluas: tidak hanya membantu korban perang, tetapi juga mengatasi persoalan kesehatan, gizi, dan pendidikan anak-anak di negara berkembang.
Tiga tahun kemudian, pada 1953, UNICEF resmi menjadi bagian permanen dari sistem PBB. Meski namanya diubah menjadi United Nations Children’s Fund, akronim "UNICEF" tetap dipertahankan dan dipakai hingga hari ini.
Sebagai organisasi yang sepenuhnya bergantung pada donasi pemerintah dan masyarakat, UNICEF telah mengerjakan berbagai program penting, termasuk:
- Menyediakan vaksin untuk puluhan juta anak setiap tahun
- Mengatasi kekurangan gizi akut
- Memperluas akses pendidikan dasar
- Merespons ratusan situasi darurat kemanusiaan
- Mengadvokasi perlindungan anak dalam konflik dan bencana
- Atas dedikasinya, UNICEF menerima sejumlah penghargaan besar, termasuk Nobel Perdamaian 1965.
Memperingati ulang tahunnya setiap 11 Desember, masyarakat dunia diingatkan untuk terus mendukung upaya UNICEF dalam memastikan setiap anak dapat tumbuh sehat, aman, dan memiliki masa depan.
3. Hari Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan
Selain peringatan internasional, tanggal 11 Desember juga memiliki makna mendalam bagi bangsa Indonesia.
Hari ini diperingati sebagai Hari Korban 40.000 Jiwa, sebuah penghormatan bagi puluhan ribu penduduk Sulawesi Selatan yang menjadi korban kekerasan pada masa pasca-kemerdekaan.
Tragedi ini berakar dari operasi militer yang digerakkan oleh pasukan khusus Belanda, Depot Speciale Troepen (DST), di bawah komando Raymond Westerling, dikutip dari bone.go.id.
Operasi tersebut berlangsung sejak 11 Desember 1946 hingga awal 1947, saat Belanda berusaha mengembalikan kendalinya atas wilayah Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan.
Dalam operasi yang dikenal dengan metode “penertiban” ala Westerling, penduduk di berbagai kampung dan kota kecil dikumpulkan, diinterogasi, dan sering kali langsung dieksekusi tanpa proses hukum.
Kekerasan ini menyebar ke banyak wilayah termasuk Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Sinjai, Parepare, hingga Polewali Mandar.
Delegasi Republik Indonesia dalam laporan kepada Dewan Keamanan PBB tahun 1947 memperkirakan jumlah korban mencapai sekitar 40.000 jiwa.
Angka tersebut kemudian menjadi simbol penderitaan masyarakat Sulawesi Selatan atas tragedi kemanusiaan besar yang terjadi setelah kemerdekaan.
Untuk menjaga ingatan generasi penerus, sejumlah daerah yang menjadi lokasi kekerasan mendirikan monumen.
Peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa bukan hanya soal mengenang masa silam, tetapi juga pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan penderitaan besar dan bahwa nilai kemanusiaan harus menjadi fondasi utama bagi bangsa ini.
(Tribunnews.com/Farra)
Artikel Lain Terkait Hari Gunung Internasional
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kalender-Tanggal-11-Desember-2025.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.