Memetik Kemandirian di Sobokerto: Jejak Hijau Sobat Bumi UNS dan Visi Energi Berdikari
Para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Sobat Bumi UNS mengedukasi warga Desa Sobokerto, Boyolali terkait mitigasi bencana.
Ringkasan Berita:
- Komunitas Sobat Bumi Universitas Sebelas Maret (UNS) membuat Aksi Sobat Bumi Jilid 2 dengan membawa misi besar tentang mitigasi bencana dan ketahanan pangan.
- Ketua Pelaksana Aksi Sobat Bumi Jilid 2, Ananda Ihza menjelaskan bahwa latar belakang kegiatan ini berakar dari arahan Pertamina Foundation pusat yang melihat Indonesia sedang dalam kondisi darurat bencana.
- Puncak aksi kali ini berfokus pada dua hal utama: penanaman pohon dan optimalisasi lahan sempit melalui hidroponik.
TRIBUNNEWS.COM, BOYOLALI – Di Balai Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, sekelompok anak muda tampak sibuk bukan sekadar bermain, melainkan sedang menanam investasi masa depan.
Melalui program Aksi Sobat Bumi Jilid 2, komunitas Sobat Bumi Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali mengakar di tanah Boyolali, membawa misi besar tentang mitigasi bencana dan ketahanan pangan pada Sabtu (10/1/2026).
Ananda Ihza, atau yang akrab disapa Ihza, mahasiswa Manajemen FEB UNS angkatan 2023, menjadi salah satu sosok di balik gerakan ini.
Ia menjelaskan bahwa latar belakang kegiatan ini berakar dari arahan Pertamina Foundation pusat yang melihat Indonesia sedang dalam kondisi darurat bencana.
"Tren saat ini menunjukkan bencana menjadi perhatian utama. Kami melakukan downscale dari arahan pusat ke regional untuk mengedukasi warga mengenai pencegahan, mitigasi, hingga penanggulangan bencana secara konkret," ujar pria yang menjadi Ketua Pelaksana Aksi itu kepada Tribunnews.com di sela-sela acara, Sabtu (10/1/2026).
Edukasi dari Bangku Sekolah hingga Pemanfaatan Lahan
Aksi kali ini tidak hanya menyentuh orang dewasa.
Sobat Bumi UNS memulai langkah mereka dari bangku sekolah dasar. Ihza menceritakan bagaimana mereka mengunjungi sekolah untuk memberikan sosialisasi mengenai pentingnya pohon dalam memitigasi bencana.
Puncak aksi kali ini berfokus pada dua hal utama: penanaman pohon dan optimalisasi lahan sempit melalui hidroponik.
Sebanyak 15 pohon angsana ditanam di lokasi tersebut, menambah deretan hijau dari aksi jilid pertama yang telah menanam 50 pohon (termasuk angsana, mangga, dan jeruk) di area Puskesmas Sobokerto.
Namun, yang menjadi primadona adalah instalasi hidroponik.
Baca juga: Maggot, Biogas, PLTS, dan Asa dari Desa Energi Berdikari Sobokerto
"Kami menyediakan dua jenis hidroponik dengan kapasitas total 80 lubang tanam," jelas Ihza.
Di sana, warga diajak menanam berbagai kebutuhan dapur mulai dari cabai, kangkung, selada, hingga pakcoy.
Filosofinya sederhana namun mendalam: penghematan lahan. Ihza menekankan bahwa pangan bisa diciptakan tanpa harus membuka lahan baru secara berlebihan atau merusak ekosistem yang ada.
Alasan Memilih Desa Sobokerto
Bukan tanpa alasan Desa Sobokerto dipilih menjadi mitra kolaborasi.
Selain aksesnya yang tidak terlalu jauh dari kampus UNS, desa ini memiliki potensi lahan kosong yang luas serta profil masyarakat yang sudah memiliki basis di bidang peternakan, seperti budidaya maggot dan lele.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/AKSI-SOBAT-BUMI-JILID-2-SOBOKERTO-1012026.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.