Senin, 19 Januari 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Megawati: Bencana Sumatera Bukan Hanya Kehendak Alam, Tapi Ulah Manusia

Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal

Penulis: Fersianus Waku
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Dok. PDIP/ Monang Sinaga
HUT DAN RAKERNAS PDIP - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri saat membuka pidatonya dalam rangka HUT ke-53 dan Rakernas I Tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Megawati Soekarnoputri menyatakan banjir dan longsor di Sumatera terjadi akibat ulah manusia yang merusak alam, bukan semata faktor alam.
  • Ia menilai kerusakan hutan dan eksploitasi berlebihan menjadi peringatan serius bagi masa depan lingkungan dan generasi muda.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menyatakan bahwa bencana banjir dan tanah longsor di yang terjadi di Sumatera bukan hanya kehendak alam, melainkan ulah manusia. 

"Bencana yang kita saksikan, khususnya di Sumatera, bukan hanya kehendak alam, melainkan juga akibat langsung dari ulah manusia," kata Megawati dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP 2026 sekaligus peringatan HUT ke-53 PDIP di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).

Megawati menegaskan, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. 

Baca juga: Pemerintah Dirikan Posko Induk Bencana Sumatera di Aceh, Pusat Kendali Pemulihan

Menurut dia, hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis.

"Akibatnya jelas dan nyata. Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur. Ia menghantam hilir, menyapu pemukiman, lahan pertanian, dan kehidupan rakyat kecil yang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan," ujar Megawati. 

Megawati menuturkan bahwa hal tersebut merupakan krisis peradaban ekologis, ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan.

Ia berpandangan, banjir dan longsor di Sumatera bukan peristiwa alam semata, melainkan peringatan sejarah. 

"Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik, apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya, gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif," ungkapnya. 

Menurut Megawati, yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Sebab, mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. 

 

"Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini," ungkapnya. 

 

 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved