Rabu, 15 April 2026

Ada Virus Nipah di India, Menkes: Indonesia Siap Antisipasi

Berdasarkan pemantauan situasi di global dan WHO, per 23 Januari dilaporkan sebanyak 2 kasus konfirmasi dan 3 suspek penyakit virus Nipah di India.

Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
ARAHAN PRABOWO - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan jumlah lulusan dokter di Indonesia menjadi 140 ribu. Menurut Budi, kondisi di lapangan menunjukkan, jumlah dokter yang ada memang masih terbatas, bahkan distribusinya belum merata. Hal ini disampaikan saat ditemui di Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • virus nipah bukanlah virus baru. Virus ini sudah ditemukan di Bangladesh, Thailand dan India
  • Virus ini diketahui memiliki tingkat fatalitas yang tinggi dan berasal dari hewan, khususnya kelelawar.
  • Menkes juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan waspada, khususnya bagi yang berencana melancong ke wilayah Asia Selatan seperti India dan Bangladesh

 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi virus nipah yang kini muncul di India.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi menyebabkan gangguan serius pada manusia dan memiliki angka kematian yang tinggi.

Berdasarkan pemantauan situasi di global dan WHO, per 23 Januari 2026 telah dilaporkan sebanyak 2 kasus konfirmasi dan 3 suspek penyakit virus Nipah di West Bengal, India

Menkes menyebut, hingga saat ini, Kementerian Kesehatan belum menemukan kasus virus Nipah di Indonesia.

Baca juga: Ada Ancaman Virus Nipah, InJourney Airports Ngaku Belum Perketat Pemeriksaan di 37 Bandara

Pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada fasilitas kesehatan hingga menyiapkan reagen PCR untuk mendeteksi virus tersebut.

Diagnosis penyakit ini ditegakkan melalui pemeriksaan RT-PCR dari spesimen: usap nasal/orofaring, cairan serebrospinal hingga urin atau serum.

"Sampai sekarang, belum ada kami amati di Indonesia. Pemeriksaan virus Nipah ini sama seperti virus lain, bisa dideteksi menggunakan PCR. Reagen PCR-nya sudah kami siapkan,” jelasnya saat ditemui di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Ia menerangkan, virus nipah bukanlah virus baru. Virus ini sudah ditemukan di Bangladesh, Thailand dan India.

Virus ini diketahui memiliki tingkat fatalitas yang tinggi dan berasal dari hewan, khususnya kelelawar.

"Memang fatality rate-nya tinggi. Virua ini berasal dari kelelawar. Jadi kalau bisa jangan tersentuh kelelawar," ungkap dia.

Imbauan Menkes

Menkes juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan waspada, khususnya bagi yang berencana melancong ke wilayah Asia Selatan seperti India dan Bangladesh.

Ia meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dan menghindari konsumsi buah-buahan yang berisiko terkontaminasi.

Saat berpergian ke negara-negara tersebut, usahakan pakai masker.

“Kami mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat bepergian ke daerah endemis, menjaga kesehatan, serta menghindari makanan yang berpotensi menjadi media penularan misalnya,” pesan dia.

Lebih jauh, Kemenkes juga akan memantau perkembangan situasi kejadian penyakit virus Nipah di India dan negara-negara lain, baik melalui kanal resmi dan/atau media monitoring.

Membuat notifikasi terkini/disease alert terkait kejadian penyakit virus Nipah di India pada kanal https://infeksiemerging.kemkes.go.id .

Meningkatkan pengawasan terhadap orang, barang, dan alat angkut yang secara langsung maupun tidak langsung dari negara atau daerah yang melaporkan adanya kasus penyakit virus Nipah.

Setiap pelaku perjalanan yang kembali ke Indonesia dari luar negeri wajib melapor pada aplikasi All Indonesia untuk menjaring pelaku perjalanan yang mengalami gejala dan berasal dari negara terjangkit, untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan/anamnesis lebih lanjut.

Meningkatkan pemantauan dan deteksi dini serta melaporkan kasus sesuai pedoman melalui laporan Event based surveillance Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) atau PHEOC dan Sistem Informasi Kekarantinaan Kesehatan (SINKARKES).

Meningkatkan pengamatan dan penemuan kasus di wilayah melalui SKDR dan surveilans sentinel penyakit infeksi emerging di Rumah Sakit. Kemudian menyebarluaskan pedoman terkait penyakit virus Nipah.

Selanjutnya, melakukan deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan terhadap seseorang yang mengalami gejala mengarah ke pemyakit virus nipah dan memenuhi salah satu faktor risiko seperti riwayat perjalanan dari India dalam 14 hari terakhir, atau memiliki riwayat kontak atau konsumsi dengan hewan terinfeksi/konsumsi nira atau aren mentah.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved