Rakernas PSI
Ahmad Ali Tegaskan Arah Baru PSI: Kader Diminta Dekat Ulama dan Pesantren, Bukan Jadikan Vote Getter
Ia mengingatkan agar kader tidak terburu-buru membicarakan pencalonan legislatif sebelum fondasi organisasi benar-benar kuat. Kader juga diminta aktif
Ringkasan Berita:
- Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menegaskan arah baru perjuangan partai dalam Rakernas 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan.
- Ia meminta seluruh kader PSI untuk tidak berjarak dengan realitas sosial-keagamaan dan aktif menjalin silaturahmi dengan tokoh agama di daerah masing-masing.
- Ahmad Ali menyadari adanya persepsi jarak antara PSI dan kelompok religius, sehingga perlu pendekatan lebih intensif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali menegaskan arah baru perjuangan partai dengan menekankan pentingnya kedekatan kader dengan realitas sosial dan keagamaan di masyarakat.
Baca juga: Hasan Nasbi: PSI Punya Peluang Masuk Parlemen Senayan, Tapi Tantangannya Tak Mudah
Penegasan tersebut disampaikan Ahmad Ali dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI 2026 yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam forum internal tersebut, ia secara terbuka mengakui adanya persepsi jarak antara PSI dan kelompok religius, sekaligus menginstruksikan seluruh kader untuk aktif membangun silaturahmi dengan tokoh agama di daerah masing-masing.
Ahmad Ali meminta kader PSI tidak menjauh dari lingkungan pesantren maupun sekolah-sekolah agama, bahkan menjadikannya ruang belajar dan refleksi.
“Saya berpesan, ketika saudara-saudara pulang kembali ke daerah asal, jangan pernah menjauhi tokoh-tokoh agama. Jangan pernah menjauhi pondok pesantren. Ketika kalian lelah, ketika kalian capek, datanglah ke pondok pesantren, datanglah ke sekolah-sekolah agama untuk belajar dan menimba ilmu,” ujar Ahmad Ali, Jumat (30/1/2026).
Melalui arahan tersebut, Ahmad Ali berharap PSI tidak hanya dikenal sebagai partai anak muda, tetapi juga sebagai partai yang memiliki kesantunan, etika, serta penghormatan tinggi terhadap ulama dan tokoh agama.
Namun demikian, ia dengan tegas melarang kader PSI menjadikan tokoh agama semata-mata sebagai alat pendulang suara politik.
“Ketika ada permasalahan yang kalian belum pahami, datanglah bertanya kepada ulama, kepada kiai. Jadikanlah mereka sebagai guru-guru kalian, tapi jangan jadikan mereka sebagai alat politik untuk memenangkan Partai Solidaritas Indonesia,” tegasnya.
Menurut Ahmad Ali, hubungan antara kader PSI dan tokoh agama harus dibangun secara tulus, bukan transaksional.
Baca juga: Yel-Yel dan Rebutan Swafoto Warnai Kedatangan Jokowi di Rakernas PSI
Ahmad Ali juga menggarisbawahi visi PSI dalam melahirkan pemimpin yang utuh, yakni sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara batin.
“PSI ingin melahirkan pemimpin yang memiliki keseimbangan batin. Tidak hanya mengisi otaknya, tapi juga batinnya. Kita tidak ingin memisahkan dunia masyarakat (umat) dengan dunia politik. Lewat PSI, kita ingin mempersatukan,” ujarnya.
Di akhir arahannya, Ahmad Ali meminta Steering Committee serta seluruh jajaran DPP, DPW, hingga DPD PSI untuk fokus merumuskan kebijakan dan merampungkan pembangunan struktur partai hingga ke tingkat terbawah.
Ia mengingatkan agar kader tidak terburu-buru membicarakan pencalonan legislatif sebelum fondasi organisasi benar-benar kuat.
Baca juga: Cerita di Balik Rusdi Masse Gabung PSI: Tak Ada Rayuan, Tanpa Paksaan hingga Terbongkar Janji Lama
“Kita bangun struktur sampai selesai. Setelah itu, barulah kita bicara tentang siapa yang akan jadi caleg. Supaya kepentingan pembangunan struktur tidak berbenturan dengan kepentingan pencalegan,” tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rakernas-PSI-ada-Ahmad-Ali-nih.jpg)