Rabu, 10 Juni 2026

Dari Langkah Kaki ke Akar Kopi: Ribuan Keringat Generasi Muda Hidupkan Napas Muria

Ribuan langkah muda berubah jadi ribuan pohon kopi di Muria, menyalakan harapan baru bagi petani dan lingkungan…

Tayang:
Tribunnews.com/Ilham Rian Pratama
TANAM POHON – Penanaman 60.321 bibit pohon di lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Gerakan OAOT 2026 mengonversi aktivitas lari, sepeda, dan digital menjadi 60.321 bibit pohon di lereng Muria.
  • Agroforestri kopi dipilih untuk menjaga ekologi sekaligus memberi nilai ekonomi bagi petani lokal.
  • Kolaborasi komunitas, swasta, dan pemerintah dinilai sebagai model ideal pengelolaan hutan berkelanjutan.

TRIBUNNEWS.COM, KUDUS – Di lereng Gunung Muria yang diselimuti mendung, harapan baru tumbuh dari tanah. Ribuan bibit bukan sekadar pohon, melainkan “napas” yang lahir dari keringat dan langkah kaki generasi muda dari berbagai penjuru.

Di Balai Desa Japan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (10/2/2026), seremoni sederhana digelar penuh makna.

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menuntaskan janjinya: 60.321 bibit pohon Multipurpose Tree Species (MPTS) siap menghijaukan kembali kawasan penyangga air Muria.

Angka itu bukan sekadar statistik.

Ia adalah buah dari gerakan digital One Action One Tree (OAOT) 2026.

Selama dua bulan, 650 peserta—pelari, pesepeda, hingga pegiat media sosial—mengubah aktivitas harian menjadi aksi konservasi.

Kayuhan sejauh 67.941 kilometer dan hentakan kaki sejauh 31.051 kilometer kini berakar di tanah Muria.

Kecemasan yang Melahirkan Harapan

Bagi masyarakat setempat, menjaga Muria adalah soal hidup.

Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria), telah menyaksikan wajah gunung berubah. 

Sejak 2021, ia bersama relawan dan petani menanam pohon, meski tantangan alam tak pernah surut.

“Awalnya kami khawatir melihat kondisi Muria, terutama di sekitar sumber mata air yang mulai terbuka dan rawan. Dari situ kami mulai menanam bersama warga dan relawan. Pelan-pelan, tapi rutin,” ujar Teguh.

Kehadiran puluhan ribu bibit baru ini menjadi angin segar.

“Bantuan bibit dari BLDF sangat membantu memperluas penanaman. Harapannya, pohon-pohon ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi petani,” tambah Teguh.

Baca juga: Kondisi TPA Putri Cempo Solo: Sampah Meluber Dekati Pemukiman, Warga sampai Mengungsi

Lebih dari Sekadar Menanam

Inisiatif ini dirancang jangka panjang melalui sistem agroforestri.

Bibit produktif, khususnya kopi, ditanam untuk menahan erosi sekaligus memberi hasil panen bernilai tinggi.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved