Profil dan Sosok
Profil Daryono, Direktur Gempa dan Tsunami BMKG yang Mengundurkan Diri dan Pensiun Dini
Berikut profil Daryono, pakar gempa yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono menyatakan bahwa ia mengundurkan diri dari jabatannya.
Bersamaan dengan itu, ia juga mengajukan pensiun dini.
Daryono mengundurkan diri dari jabatannya lantaran mengalami sakit mata yakni distrofi kornea.
Penyakit ini termasuk genetik langka yang menyebabkan penumpukan zat abnormal pada satu atau kedua kornea, mengakibatkan gangguan penglihatan seperti pandangan kabur dan sensitivitas cahaya.
"Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami, sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG,"
"Saya saat ini sedang sakit mata yang disebut distrofi kornea dan sedang dalam perawatan dan penanganan sehingga cuti dinas, kemudian lanjut pensiun dini. Hingga 1 Mei saya masih berstatus pegawai BMKG," kata Daryono dalam keterangannya resminya, Jumat (13/2/2026) malam.
Meski sudah tidak menjabat, ia menegaskan tetap berkomitmen memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai isu kegempaan dan kebencanaan.
"Saya mohon rekan-rekan media tidak lagi mencantumkan afiliasi saya sebagai Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG dalam pemberitaan. Namun demikian, komitmen saya terhadap edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan tidak akan berhenti, " ucapnya.
"Saya akan tetap terbuka untuk berbagi pengetahuan, memberikan penjelasan ilmiah, serta menjadi narasumber sabagai pemerhati Gempabumi dan Tsunami, apabila diperlukan," katanya.
Ia menegaskan tetap berkomitmen untuk terus berkontribusi sebagai ahli sekaligus edukator publik di bidang kebencanaan.
"Saya akan tetap konsisten berkontribusi sebagai ahli dan edukator publik di bidang kebencanaan, dengan tetap menjunjung tinggi objektivitas ilmiah, integritas, dan kepentingan keselamatan masyarakat," ujarnya.
Baca juga: Teknologi Seismograf BMKG Sudah Sampai Ratusan Unit, Daryono: 3 Menit Warning Bisa jadi Golden Time
Berikut adalah profil Daryono.
Profil Daryono
Daryono lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 21 Februari 1971.
Berdasarkan penelusuran Tribunnews, ia merupakan lulusan D3 Geofisika Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) Jakarta pada 1993.
Lalu, ia melanjutkan studi S1 Geofisika di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Tak sampai di situ, Daryono menempuh pendidikan S2 di Universitas Udayana (UNUD), Denpasar.
Ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Geografi dari UGM pada 2006.
Daryono memulai kariernya dengan bergabung ke Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pada saat itu, ia bertugas sebagai staf teknis di Balai BMKG Wilayah III Denpasar, Bali.
Pria berusia 55 tahun itu tercatat pernah menjadi Kepala Subbagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan di di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG).
Ia juga sempat menduduki posisi sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami. Sejak menjabat jabatan tersebut, nama Daryono mulai dikenal luas oleh masyarakat.
Setelah itu, ia didapuk sebagai Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.
Barulah di tahun 2022, Daryono dipercaya menjadi Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.
Selain menjalankan tugas di BMKG, Daryono juga aktif sebagai peneliti dengan lebih dari 80 publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional sejak tahun 2005.
Ia juga pernah menjadi Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Divisi Mitigasi Bencana Kebumian pada tahun 2017.
Dikutip dari hagi.or.id, Daryono sempat menjadi Pengurus Pusat HAGI untuk periode 2022-2024.
(Tribunnews.com/Falza)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.