Ramadan 2026
Warga Muhammadiyah Gelar Tarawih Pertama, Besok Puasa Ramadan
Malam ini jemaah Muhammadiyah gelar tarawih pertama. Besok puasa dimulai, Haedar Nashir imbau umat sikapi perbedaan awal Ramadan dengan bijak.
Ringkasan Berita:
- Malam ini masjid Muhammadiyah penuh jemaah tarawih pertama
- Besok puasa dimulai, perbedaan awal Ramadan kembali terjadi
- Haedar Nashir imbau umat sikapi perbedaan dengan bijak dan tenang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Selasa petang (17/2/2026), sejumlah jemaah Muhammadiyah mulai berdatangan ke masjid masjid di tanah air sejak sebelum waktu salat magrib, untuk mengikuti salat Tarawih pertama Ramadan 1447 H/2026 M.
Di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, jemaah perempuan memenuhi lantai tiga, sementara jemaah laki-laki menempati lantai satu dan dua.
Kompas Tv melaporkan, area parkir kantor pusat PP Muhammadiyah tampak sesak oleh kendaraan jamaah yang ingin melaksanakan salat tarawih pertama Ramadhan tahun ini.
Suasana serupa juga terlihat di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Semarang, yang berada di dalam kompleks Universitas Muhammadiyah Semarang, Jawa Tengah.
Kapasitas masjid unggulan nasional itu mencapai 2.000 jamaah, dan malam ini dipenuhi warga Muhammadiyah yang melaksanakan salat magrib, isya, dan tarawih berjemaah.
Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Masjid Nurul Samad di Jalan Jenderal Sudirman juga bersiap menyambut tarawih pertama. Pengurus masjid menambah karpet hingga ke teras untuk menampung jemaah.
“Kalau malam pertama pasti banyak, sampai di teras itu. Memang banyak warga Muhammadiyah di sini,” kata Faisal, salah seorang warga setempat., dikutip TribunTimur.com.
Baca juga: Masjid Al Musyari’in Basmol Gunakan Teleskop Robotik Jepang-Kanada Pantau Hilal Ramadan
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pinrang, Andi Syamiluddin, menjelaskan bahwa Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Keputusan itu berdasarkan hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid dengan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal. Menurutnya, metode Muhammadiyah menggabungkan rukyat dengan hisab, tetapi bersifat global.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menanggapi kemungkinan perbedaan awal puasa antara Muhammadiyah dengan pemerintah.
Ia menilai perbedaan umat muslim dalam mengawali puasa adalah hal biasa karena belum adanya kalender Islam tunggal. Haedar mengimbau agar umat Islam menyikapi perbedaan dengan cerdas dan lapang dada.
“Tak perlu saling menyalahkan, dan tidak merasa paling benar sendiri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa tujuan utama puasa adalah meningkatkan takwa, baik pribadi maupun kolektif, serta menghadirkan kebaikan hidup bagi sesama.
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menjelaskan bahwa perbedaan terjadi karena metode yang digunakan berbeda.
Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan berdasarkan hisab dan kalender global, sementara pemerintah dan ormas lain menggunakan imkan rukyat yang mensyaratkan hilal berada di atas 3 derajat sesuai kesepakatan MABIMS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/salat-tarawih-warga-muhamadiyah-di-jakarta_20240310_210116.jpg)