Ramadan 2026
Bubur Samin: Warisan Rasa dan Tradisi Ramadan di Masjid Darussalam Jayengan Solo
Pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan Solo menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi yang bertahan selama puluhan tahun.
Ringkasan Berita:
- Pembuatan dan pembagian Bubur Samin di Masjid Darussalam Jayengan menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi khas yang telah bertahan selama puluhan tahun.
- Munculnya Bubur Samin di Jayengan berawal dari inisiatif para perantau asal Kalimantan yang telah menetap di Jawa, khususnya di wilayah Surakarta.
- Keistimewaan Bubur Samin terletak pada penggunaan bumbu rempah-rempah khusus dan minyak samin yang berasal dari Kambing.
TRIBUNNEWS.COM - Ramadan adalah bulan yang penuh keistimewaan dalam kalender Islam (Hijriah), dimana banyak keutamaan dan kebaikan di dalamnya.
Setiap bulan Ramadan, masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam tradisi untuk menyambutnya.
Tradisi masyarakat di bulan Ramadan, seringkali berakar dari masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga untuk melakukan aktivitas sosial.
Sejumlah masjid di Indonesia memiliki tradisi khas yang hanya ada di saat bulan Ramadan, salah satunya ada di Masjid Jayengan, Serengan, Surakarta, Jawa Tengah.
Ramadan di Kota Surakarta (Solo) selalu memiliki magnet tersendiri, salah satunya terpancar dari kesibukan di Masjid Darussalam, Jayengan.
Masjid Darussalam Jayengan menjadi pusat perhatian masyarakat luas berkat tradisi khas yang telah bertahan selama puluhan tahun, yaitu pembuatan dan pembagian Bubur Samin.
Kudapan khas Kalimantan ini bukan sekadar takjil biasa, melainkan ikon kultural yang mempertemukan sejarah perantau Banjar dengan keramahan warga lokal Solo.
Bahkan, tradisi pembagian secara massal ini disebut-sebut sebagai satu-satunya di Indonesia yang dilakukan secara konsisten selama satu bulan penuh di sebuah masjid.
Jejak Sejarah dan Tradisi Pembuatan Bubur Samin
Munculnya Bubur Samin di Jayengan berawal dari inisiatif para perantau asal Kalimantan yang telah menetap di Jawa, khususnya di wilayah Surakarta.
"Ini satu-satunya pembuatan Bubur Samin di bulan Ramadan selama satu bulan penuh mungkin di seluruh Indonesia, cuma ada di Solo," kata Wakil Ketua Takmir sekaligus ketua penanggung jawab pembagian bubur Samin Masjid Darussalam Jayengan, Muhammad Mayasin saat ditemui Minggu (1/3/2026).
Baca juga: Sejarah dan Tradisi Masjid Darussalam Jayengan Surakarta: Jejak Komunitas Banjar di Tanah Jawa
Awalnya, menu yang disajikan sangat beragam, namun seiring berjalannya waktu, Bubur Samin menjadi pilihan utama karena rasanya yang nikmat dan efeknya yang menghangatkan serta menyegarkan tubuh setelah seharian berpuasa.
"Jadi waktu itu kan para pendatang itu kan sudah ada yang berhasil, sudah ada juga yang belum. Nah, bagi yang sudah berhasil ini, itu kan menyuruh para istrinya untuk membuat makanan khas Kalimantan yang kemudian untuk diberikan atau dipakai untuk berbuka bersama di masjid di kalangan Kalimantan sendiri, dengan warga sekitar masjid."
"Karena mereka itu memang seperti ajaran Rasulullah ya, manusia yang memberikan makan di saat berbuka puasa bagi orang berpuasa itu kan pahalanya berlipat ganda. Maka itu mereka berlomba-lomba. Akhirnya pada waktu itu banyak sih makanan-makanan khas Kalimantan ditampilkan, banyak sekali," terang Mayasin.
"Seiring berjalannya waktu dirasa loh kok ini kok cocok, dimakan kok enak di perut begitu, nanti habis makan terus kemudian badannya fresh. Akhirnya pada berapa tahun kemudian dibuat Bubur Samin itu. Tapi belum secara umum ya, belum secara massal. Dulu cuma dibagikan untuk takjil di masjid, dibagikan sama untuk warga sekitar masjid saja," sambungnya.
Peralihan dari konsumsi internal menjadi pembagian massal terjadi sekitar tahun 1980 hingga 1985.
Pada masa itu, warga yang telah pindah dari kawasan Jayengan tetap datang untuk berbuka dan sering meminta sisa bubur untuk dibawa pulang.
"Berjalannya waktu ada warga yang mungkin pindah dari Jayengan karena sudah berkeluarga, tambah keluarga lagi, mungkin punya menantu baru atau keluarga baru, akhirnya pindah ke daerah lain."
"Nah, setelah mereka juga masih berbuka di sini, pada waktu puasa berbuka di sini, kemudian sisa bubur ini ada yang minta bawa pulang lah gitu, mungkin bisa buat nanti buat sahur, ujarnya.
Tingginya permintaan masyarakat umum mendorong para tokoh masjid untuk memproduksi bubur secara besar-besaran.
Jika pada tahun 80-an hanya menghabiskan 10–15 kg beras per hari, saat ini Masjid Darussalam Jayengan mengolah sekitar 45 hingga 50 kg beras setiap harinya selama Ramadan, yang mampu menghasilkan sekitar 1.100 hingga 1.200 porsi.
"Jika pada tahun 80-an masjid hanya mengolah sekitar 15 kilogram beras, kini setiap hari di bulan Ramadan, pengurus masjid memasak 45 hingga 50 kilogram beras. Jumlah tersebut mampu menghasilkan sekitar 1.100 hingga 1.200 porsi per hari, di mana 1.000 porsi dibagikan gratis untuk masyarakat umum dan sisanya untuk buka bersama di masjid," lanjutnya.
Rahasia Rasa dan Khasiat Rempah
Keistimewaan Bubur Samin terletak pada penggunaan bumbu rempah-rempah khusus dan minyak samin yang berasal dari Kambing, yang memberikan aroma serta rasa gurih yang khas.
Resep ini merupakan warisan turun-temurun yang dijaga ketat kerahasiaannya oleh keluarga pembuatnya.
"Iya, (resepnya) turun-temurun. Berarti orang lain buat tidak bisa. Nyontoh pun juga tidak boleh. Kan gitu, kan itu rahasia, kan gitu. Dibuat seperti khusus diturunkan mungkin juga ada beberapa, nggih. Mungkin telah diturunkan ke anaknya, beberapa anaknya, mungkin turun lagi ke anaknya akhirnya juga menyebar. Tapi di sini sendiri itu cuma yang bisa buat cuma dua-tiga orang," ungkapnya.
Selain memanjakan lidah, kandungan rempah di dalamnya diyakini memiliki khasiat kesehatan, seperti memberikan rasa hangat pada tubuh dan membantu memulihkan stamina bagi mereka yang merasa kurang fit.
Filantropi dan Semangat Kebersamaan
Operasional pembuatan bubur ini murni didorong oleh semangat sedekah atau nyengkuyung.
Pendanaannya berasal dari sumbangan para saudagar emas dan berlian keturunan Kalimantan, warga sekitar, hingga bantuan beras dari Pemerintah Kota Surakarta dan donatur dari Singapura.
"Masyaallah, ini dari tahun ke tahun kan memang seperti yang saya utarakan tadi seperti sabda nabi, nggih. Perkataan nabi bahwa ini murni. Murni dari sedekah para jemaah Kalimantan, sedekah para warga sekitar masjid, sedekah para pedagang emas dan berlian yang ada di Surakarta," ucap Mayasin.
"Kemudian sudah berapa tahun terakhir ini itu kan ada bantuan beras dari Singapura juga ada. Kemudian ada bantuan beras dari Pemerintah Kota Surakarta kemarin juga sudah 3 tahun 4 tahun ini juga memberikan bantuan berasnya, nggih. Tapi untuk warga untuk biaya seluruh itu murni dari sedekah atau sedekah para saudagar Kalimantan, warga sekitar masjid," tambahnya.
Meski animo masyarakat terus meningkat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Pihak takmir mengaku tantangan terberat adalah keterbatasan tenaga dan waktu masak yang mencapai 3 hingga 4 jam, sehingga produksi belum bisa ditambah meski sering kali porsi yang disediakan habis sebelum semua pengantre terlayani.
"Tantangan kita itu cuma satu, Mas. Kalau dibagi habis, masih ada yang minta itu, Mas. Iya, bener. Itu itu cuma cuma di situ kita kita juga agak bersedih juga. Kadang-kadang kita bagi sudah kita bagi semaksimal se-minim mungkin nggih, kita bagi sudah kita tata rapi sekali ternyata masih kurang. Ya berarti kan yang minta lebih banyak daripada persediaan," ujarnya.
Warisan Budaya Tak Benda
Kini, Bubur Samin bukan lagi sekadar menu buka puasa, melainkan identitas bagi wilayah Jayengan.
Tradisi ini telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda melalui piagam yang ditandatangani oleh Menparekraf Sandiaga Uno.
"Sudah, sudah ada apa namanya piagamnya juga dari yang ditandatangani oleh Pak Sandiaga Uno kemarin itu. Dan saya harapkan juga nanti mungkin pemerintah pusat itu kalau bisa juga mendanai ini juga, ikut mendanai ini juga. Jadi kita tidak bingung, ya, Mas, untuk urusan dananya seperti apa, nggih," harap Mayasin.
Lebih lanjut pengusus berharap tradisi ini terus lestari dan mendapat dukungan lebih luas agar generasi mendatang tetap bisa merasakan kehangatan semangkuk Bubur Samin di setiap Ramadan.
"Harapannya tentu nanti kan begini, bubur ini tetap ada sampai kapan pun juga. Mungkin setelah saya juga tidak ada nanti ada generasi yang meneruskan juga," ucap Mayasin.
Antusias Warga Solo Penikmat Bubur Samin
Rizal, warga Pasar Kliwon Solo mengaku dua hari berturut turut datang ke Masjid Darussalam Jayengan untuk menikmati Bubur Samin yang dibagikan.
Warga Solo yang rumahnya sekitar 2,3 km dari wilayah Masjid tersebut awalnya mengaku penasaran dengan keramaian antrian masyarakat untuk mengambil bubur.
"Saya awalnya penasaran udah lihat di TV bagaimana suasana keramaiannya, penyajiannya seperti apa. Udah dua hari saya antri di masjid untuk mengambil bubur," ungkap Rizal.
"Buburnya rasanya enak, memang beda dari yang dijual-jual, bumbunya khas," imbuhnya.
Menurutnya, suasana di masjid menggambarkan bahwa umat Islam bersatu dan rukun.
"Meriah ya untuk suasana Ramadan di sini, umat Islam bersatu," tukasnya.
(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tradisi-penyajian-Bubur-Samin-setiap-bulan-Ramadan-di-Masjid-Darussalam-Jayengan-Surakarta.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.