Rabu, 15 April 2026

Menaker Respons Survei Apindo 67 Persen Perusahaan Enggan Buka Loker: Memang Penuh Ketidakpastian

Menaker Yassierli memberikan respons terkait hasil survei APINDO yang mana menyebut 67 persen perusahaan tidak berniat membuka lowongan kerja.

Dok. Biro Humas Kemnaker
LOWONGAN KERJA - Potret Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassier di Jakarta, Selasa (7/4/2026). Ia memberikan respons terkait hasil survei APINDO yang mana menyebut 67 persen perusahaan tidak berniat membuka lowongan kerja. 

Ringkasan Berita:
  • 67 persen perusahaan menyatakan tidak berniat melakukan rekrutmen atau membuka lowongan kerja baru
  • Kondisi dunia saat ini memang penuh dengan ketidakpastian global yang berdampak pada keberanian pelaku usaha untuk berekspansi
  • Yassierli mendorong program pelatihan vokasi nasional dan digital skills yang lebih masif

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli memberikan respons terkait hasil survei dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Dalam survei terbarunya, APINDO menyebut kondisi ketenagakerjaan di Indonesia sedang dalam titik miris, di mana 67 persen perusahaan menyatakan tidak berniat melakukan rekrutmen atau membuka lowongan kerja baru.

Menaker Yassierli mengaku memahami kekhawatiran para pengusaha tersebut.

Menurutnya, kondisi dunia saat ini memang penuh dengan ketidakpastian global yang berdampak pada keberanian pelaku usaha untuk berekspansi.

"Artinya kita sadar bahwa kondisi dunia saat ini, tidak hanya Indonesia, memang penuh ketidakpastian. Tentu pemerintah harus menyikapi ini dengan melihat bersama-sama," ujar Yassierli saat ditemui di Gedung Vokasi Kemnaker, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Menaker Yassierli Ingatkan Pekerja harus Siap Hadapi Perkembangan Teknologi

Sebelumnya, Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam, mengungkapkan data pahit dalam rapat panitia kerja (panja) RUU Ketenagakerjaan di DPR RI.

Selain 67 persen perusahaan enggan membuka loker, survei tersebut mencatat 50 persen perusahaan tidak akan melakukan ekspansi dalam 5 tahun ke depan.

Bob Azam menyoroti merosotnya kontribusi sektor manufaktur yang kini hanya tinggal 18-19 persen, padahal sektor ini adalah tulang punggung penyerapan tenaga kerja.

"Buruh tidak sejahtera, pengusahanya terjepit, dan investor di sektor manufaktur malah meninggalkan Indonesia terutama di padat karya. Dulu yang namanya Tangerang itu padat sekali, sekarang kosong," kata Bob Azam.

Baca juga: Fokus Tekan Angka Pengangguran, Menaker Pastikan Program Magang 2026 Tak Terpusat di Jakarta

Menanggapi hal tersebut, Menaker Yassierli menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Penanganan isu ini disebutnya tidak hanya menjadi beban Kemnaker, melainkan kerja kolektif lintas kementerian.

Salah satu strategi besar pemerintah adalah melalui penguatan ketahanan pangan dan energi sebagai langkah menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

"Ketika ketahanan pangan dan energi itu terwujud, maka kita akan lebih resilience (tangguh). Kami di Kementerian Ketenagakerjaan memang diminta lebih fokus dalam hal penyiapan SDM-nya dalam konteks skill vokasi," jelas Menaker.

Untuk menjawab tantangan industri yang kian cenderung enggan membuka lowongan, Yassierli mendorong program pelatihan vokasi nasional dan digital skills yang lebih masif.

Salah satunya melalui program magang yang diharapkan menjadi jalan keluar bagi permasalahan link and match antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan industri.

"Kami harapkan program magang ini bisa sebagai bagian solusi untuk menyelesaikan permasalahan terkait link and match, yakni tuntutan skill saat bekerja dan kebutuhan dari industrinya," pungkas Menaker.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved