Minggu, 17 Mei 2026

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Analisis Pengamat Perkeretaapian Soal Tabrakan KA Argo Bromo Vs KRL, Sorot Kemungkinan Miskomunikasi

Joni Martinus membedah sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Tayang:
TRIBUNNEWS/HERUDIN
KECELAKAAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Pengamat membedah sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. 
Ringkasan Berita:
  • Pengamat ungkap setidaknya ada enam faktor yang bisa memicu kecelakaan kereta
  • Sorot pentingnya koordinasi antara masinis dengan Pusat Pengendali Kereta Api Terpadu
  • Peristiwa bermula dari commuter line yang tertemper taksi listrik lalu ditabrak rangkaian kereta jarak jauh di gerbong paling akhir

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus membedah sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Joni menjelaskan, secara umum terdapat enam faktor krusial yang bisa memicu terjadinya tabrakan kereta api dari arah belakang.

Faktor pertama yang disorotnya adalah kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap sinyal berindikasi merah atau yang dikenal dengan istilah Signal Passed At Danger (SPAD).

Hal itu disampaikan Joni Martinus dalam program On Focus Tribunnews, Selasa (28/4/2026).

"Setiap masinis yang melihat indikasi merah wajib menghentikan jalannya kereta api. Jika ini dilanggar, maka risiko tabrakan sangat besar," kata Joni.

Faktor kedua, lanjut Joni, adalah potensi kegagalan sistem sinyal itu sendiri atau Wrong Side Failure.

Baca juga: Baru 7 Keluarga Melapor untuk Identifikasi Jenazah Korban Tabrakan KA di Bekasi Timur

Hal ini terjadi apabila sistem memberikan aspek yang salah, misalnya seharusnya merah justru menampilkan hijau atau kuning.

Selain masalah teknis persinyalan, ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara masinis dengan Pusat Pengendali Kereta Api Terpadu.

Lebih lanjut, Joni menyebutkan faktor teknis pada sarana seperti gagal pengereman atau rem blong, serta faktor penurunan konsentrasi masinis juga tidak boleh dikesampingkan dalam investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Bisa saja terjadi miskomunikasi terkait batas kecepatan atau prosedur saat melewati jalur yang sedang mengalami kendala di depan, seperti adanya insiden mobil mogok," jelasnya.

Baca juga: Dia Terlempar Keluar, Alice Norin Bagikan Kisah Stafnya Selamat dari Tragedi Kereta Bekasi

Kecelakaan melibatkan kereta PLB 5568A (Commuter Line relasi Cikarang) dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di KM 28+920 wilayah Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Peristiwa bermula dari commuter line yang tertemper taksi listrik lalu ditabrak rangkaian kereta jarak jauh di gerbong paling akhir.

Akibat kejadian ini 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan 88 orang lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Selain itu, dampak lainnya perjalanan kereta api jarak jauh dari Jakarta terganggu sejak Senin (27/4/2026) malam.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved