Jumat, 8 Mei 2026

Kementrans Kirim Tim ke Tiongkok untuk Belajar Hapus Kemiskinan Ekstrem

Kementrans mengirim 36 peserta ke Tiongkok untuk mempelajari strategi pengentasan kemiskinan ekstrem bagi kawasan transmigrasi.

Tayang:
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
PELATIHAN TRANSNASIONAL — Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara melepas 36 peserta pelatihan pengentasan kemiskinan yang akan bertolak ke Tiongkok di Gedung Grand Makarti, Jakarta, Kamis sore (7/5/2026). Program ini bertujuan memperkuat strategi pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kapasitas peserta dalam upaya pengentasan kemiskinan di wilayah transmigrasi. 

Ringkasan Berita:

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pemerintah mulai menjajaki strategi pengentasan kemiskinan ekstrem ala Tiongkok dengan mengirim 36 peserta pelatihan ke negara tersebut untuk disiapkan mendampingi kawasan transmigrasi, termasuk Papua.

Pelepasan peserta dilakukan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Grand Makarti Kementerian Transmigrasi, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).

Peserta pelatihan terdiri dari unsur internal Kementerian Transmigrasi dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya, hingga Universitas Hasanuddin.

“Jadi pada hari ini saya selaku Menteri Transmigrasi akan memberangkatkan 36 peserta pelatihan untuk pengentasan kemiskinan ke Tiongkok. Karena ini menjadi hajat besar Bapak Presiden untuk upaya mengentaskan kemiskinan ini. Bahkan ada khusus instruksi presidennya nomor 8 tahun 2025,” kata Iftitah.

Program tersebut merupakan bagian dari implementasi Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang percepatan pengentasan kemiskinan di Indonesia.

 
Belajar Strategi dari Tiongkok

Peserta dijadwalkan menjalani pelatihan selama dua pekan di Tiongkok untuk mempelajari strategi penanganan kemiskinan ekstrem.

Tiongkok dipilih karena negara tersebut dinilai berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.

“Kita ingin belajar best practice itu dan mengimplementasikannya di Indonesia,” ujar Iftitah.

Baca juga: KSP Mengaku Diarahkan Prabowo Cek Celah Potensi Korupsi MBG

Sekembalinya dari Tiongkok, peserta akan membekali tim Ekspedisi Patriot Kementrans yang disiapkan untuk diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi.

Sebanyak 10 kawasan di antaranya berada di Papua.

Tim tersebut nantinya akan mendampingi masyarakat selama kurang lebih satu tahun.

 
Fokus pada Penguatan Ekonomi Kawasan

Iftitah mengatakan pemerintah mulai mengubah orientasi program transmigrasi.

Menurutnya, ukuran keberhasilan transmigrasi kini tidak lagi dilihat dari jumlah perpindahan penduduk, melainkan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi.

“Karena hari ini tidak lagi kita artikan ukuran kesuksesan transmigrasi itu dari berapa banyak yang bisa dipindahkan. Tidak. Kita ukuran kesuksesannya adalah berapa banyak yang bisa disejahterakan,” tegasnya.

Ia berharap penguatan ekonomi lokal dan dukungan pemerintah daerah dapat membuat kawasan transmigrasi berkembang serta membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan memiliki kesempatan ekonomi yang lebih baik tanpa harus berpindah ke daerah lain.

“Kalau kita bangun ekonominya pasti mereka akan tinggal dan betah,” katanya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved