Jumat, 22 Mei 2026

TB Hasanuddin Ingatkan Pemerintah, MRO AS di Kertajati Berpotensi Jadi Pangkalan Militer Terselubung

TB Hasanuddin meminta pemerintah berhati-hati menyikapi tawaran Pemerintah AS menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat MRO pesawat Hercules.

Tayang:
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Dewi Agustina
TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN
BANDARA KERTAJATI - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, meminta pemerintah berhati-hati dalam menyikapi tawaran Pemerintah Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati, Jawa Barat, sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules. TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN 

Ringkasan Berita:
  • TB Hasanuddin meminta pemerintah berhati-hati dalam menyikapi tawaran Pemerintah Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati, Jawa Barat, sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules.
  • Kerja sama tersebut tidak sekadar menyangkut industri penerbangan, tetapi juga memiliki dimensi strategis yang berkaitan dengan pertahanan dan kedaulatan negara.
  • Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan secara rinci cakupan operasional fasilitas MRO tersebut.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, meminta pemerintah berhati-hati dalam menyikapi tawaran Pemerintah Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati, Jawa Barat, sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules.

Menurut TB Hasanuddin, kerja sama tersebut tidak sekadar menyangkut industri penerbangan, tetapi juga memiliki dimensi strategis yang berkaitan dengan pertahanan dan kedaulatan negara.

Baca juga: Bangun MRO di Bandung, Republik Aero Teken MoU Perawatan Pesawat Militer dengan Perusahaan Prancis

"Keputusan menerima tawaran Amerika Serikat menjadikan Indonesia sebagai MRO hubs pesawat C-130 dan menetapkan Bandara Kertajati sebagai lokasinya harus dijalankan dengan sangat hati-hati dan transparan," kata TB Hasanuddin, kepada wartawan, Kamis (21/5/2026).

Ia menilai pemerintah perlu menjelaskan secara rinci cakupan operasional fasilitas MRO tersebut.

Sebab, apabila fasilitas itu hanya digunakan untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik, maka dapat menimbulkan persoalan hukum maupun politik strategis.

 

 

"Jika fasilitas tersebut eksklusif untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia, maka persepsinya bisa berkembang sebagai bentuk pangkalan militer AS di Indonesia. Ini tentu harus dicermati karena dapat berbenturan dengan peraturan perundang-undangan serta prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia," ucapnya.

TB Hasanuddin juga menyoroti status Bandara Kertajati yang selama ini merupakan bandara sipil. 

Dia menilai penggunaan fasilitas tersebut sebagai pusat perawatan pesawat militer asing membutuhkan pengaturan yang jelas agar tidak mengganggu pelayanan penerbangan sipil.

"Bandara Kertajati saat ini berstatus bandara penerbangan sipil. Kalau nanti menjadi pusat perawatan pesawat militer, tentu harus ada pengaturan yang jelas agar tidak mengganggu fungsi pelayanan penerbangan sipil untuk masyarakat Jawa Barat," katanya.

Selain itu, TB Hasanuddin meminta pemerintah memastikan adanya manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, terutama bagi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

"Prinsip utamanya adalah menjaga kedaulatan negara, memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas, serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menawarkan kepada pemerintah Indonesia agar pusat MRO pesawat C-130 Hercules untuk kawasan Asia ditempatkan di Indonesia. 

Tawaran tersebut disampaikan saat bertemu Menteri Pertahanan RI pada April 2026 di Pentagon, Amerika Serikat.

Apa Itu MRO

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved