Minggu, 24 Mei 2026

Manuver Politik Jokowi

Jokowi Siap ‘Turun Gunung’, Golkar Enggan Berkomentar Banyak

Menurut Idrus, langkah politik siapa pun, termasuk Jokowi, merupakan hak politik yang dijamin dan tidak patut diintervensi pihak lain.

Tayang:
Penulis: Chaerul Umam
Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
RAKERNAS I PSI - Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri penutupan Rakernas I PSI di Sandeq Ballroom Claro Hotel, Makassar Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). Wacana Jokowi bakal 'turun gunung' dan disebut-sebut masuk jajaran Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mendapat respons dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham. 
Ringkasan Berita:
  • Jokowi bakal 'turun gunung' dan disebut-sebut masuk jajaran Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mendapat respons dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham.
  • Golkar memilih tidak ikut mencampuri langkah Jokowi tersebut dan dinamika internal partai lain.
  • Menurut Idrus, langkah politik siapa pun, termasuk Jokowi, merupakan hak politik yang dijamin dan tidak patut diintervensi pihak lain.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wacana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bakal 'turun gunung' dan disebut-sebut masuk jajaran Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mendapat respons dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham.

Namun, Golkar memilih tidak ikut mencampuri langkah Jokowi tersebut dan dinamika internal partai lain.

Baca juga: Sekjen Demokrat Tak Khawatir Jokowi Turun Gunung Keliling Indonesia: Silakan, Itu Hak Warga Negara

Menurut Idrus, langkah politik siapa pun, termasuk Jokowi, merupakan hak politik yang dijamin dan tidak patut diintervensi pihak lain.

“Aduh saya kira itu internal partai ya, jadi mau jadi apa saya kira kita tidak ini. Tidak mau ikut apapun,” kata Idrus Marham kepada wartawan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Baca juga: Jokowi Janji Hadir di Persidangan Jika Kasus Ijazah P21, Kuasa Hukum: Ijazah dari SD-S1 Bakal Dibawa

Idrus menegaskan, setiap orang bebas menggunakan hak politiknya, termasuk jika Jokowi nantinya benar-benar bergabung sebagai Dewan Pembina PSI maupun aktif turun langsung dalam aktivitas politik partai tersebut.

“Bagi siapapun menggunakan hak politiknya, ya misalkan infonya mau masuk sebagai Dewan Pembina di PSI lalu kemudian turun, itu kan langkah itu hak politik orang masing-masing,” ucapnya.

Ia menilai, sikap menghormati pilihan politik merupakan bagian dari etika demokrasi.

Sebab itu, Golkar tidak ingin memberikan penilaian lebih jauh terhadap kemungkinan langkah politik Jokowi di PSI.

“Jadi kita tidak boleh mencampuri hak politik orang dan bagaimana menggunakan hak politik itu,” ucapnya.

Politikus senior Golkar itu juga menegaskan bahwa akan sangat tidak etis jika dirinya sebagai kader Golkar ikut menyoroti urusan internal partai lain.

“Sangat tidak etis kalau saya dari Golkar menyoroti hal-hal seperti itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Projo Freddy Alex Damanik yang menyebut Jokowi akan kembali turun gunung menyapa masyarakat pada Juni 2026 mendatang.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah pulih 99 persen.

"Kesehatannya sudah pulih 99 persen, dan rencananya bulan depan (Juni), beliau sudah akan keliling Indonesia kembali untuk menyapa masyarakat. Pak Jokowi akan didampingi relawannya ketika mengunjungi suatu daerah," ujar Freddy dikutip dari Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Baca juga: P21 Tak Kunjung Terbit, Kuasa Hukum Dokter Tifa Yakin Kasus Ijazah Jokowi Tak Akan Lanjut

Politikus PDIP: Ancaman bagi Prabowo

Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menilai rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang akan berkeliling Indonesia merupakan sebuah pesan terselubung sekaligus ancaman bagi Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Guntur, ada sejumlah analisis di balik manuver politik yang akan dilakukan oleh mantan Wali Kota Solo tersebut.

"Pertama, ini pesan halus sekaligus ancaman bagi Prabowo. Jokowi ingin menyatakan: 'Saya masih diperhitungkan'," kata Guntur Romli kepada Tribunnews.com, Minggu (17/5/2026).

Guntur menyebut, dukungan massa yang digalang Jokowi ke daerah-daerah bisa menjadi tameng jika sewaktu-waktu Pemerintahan Prabowo terganggu.

Bahkan, ia menyinggung posisi putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, sebagai Wakil Presiden. Menurutnya, Gibran adalah sosok yang paling siap didorong "naik" dengan sokongan penuh dari ayahnya.

"Atau, ini persiapan jangka panjang menyaingi 2029, menjaga pengaruh dinasti Jokowi di tengah Prabowo yang punya basis sendiri, kalau Pasangan Prabowo Gibran cerai di tengah jalan," ujar Guntur. 

Kedua, Guntur menilai rencana keliling Indonesia ini menjadi bukti nyata bahwa publik tidak bisa mempercayai ucapan Jokowi.

Ia mengingatkan kembali memori publik pada janji Jokowi jelang lengser dari kursi kepresidenan. Saat itu, kata dia, Jokowi kerap menyatakan ingin pulang ke Solo dan beristirahat menjadi warga biasa.

"Ini malah akan terus menghimpun kekuatan politik. Itu pilihan pribadi Jokowi, tapi publik makin yakin omongan Jokowi tidak bisa dipegang alias tukang bohong," ucap Guntur. 

Ketiga, manuver keliling Indonesia diyakini Guntur sebagai langkah terencana untuk memperkuat dan memagari dinasti politik Jokowi yang saat ini sedang berada di lingkar kekuasaan.

Ia membeberkan fakta bahwa saat ini trah Jokowi memegang posisi-posisi krusial. Selain Gibran sebagai Wapres, ada Kaesang Pangarep yang menjabat sebagai Ketua Umum PSI, serta Bobby Nasution yang duduk sebagai Gubernur Sumatera Utara. 

Oleh karena itu, Guntur menilai Jokowi merasa wajib untuk turun tangan menjaga kekuatan tersebut.

Baca juga: Start Juni 2026, PSI Beberkan Rencana Jokowi Blusukan Keliling Indonesia

Pengamat sebut Jokowi Beri Pesan Siap Kembali ke Panggung Politik dan Jaga "Jokowi Effect"

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai rencana Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang akan berkeliling Indonesia merupakan pesan bahwa dirinya belum selesai dan siap kembali ke panggung depan politik Tanah Air.

Menurut Agung, langkah mantan Wali Kota Solo tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi biasa.

"Beliau mengirimkan pesan bahwa siap kembali ke panggung depan politik Tanah Air sekaligus memanaskan mesin politik relawannya secara bertahap," kata Agung kepada Tribunnews.com, Minggu (17/5/2026).

Agung menjelaskan, keputusan Jokowi untuk kembali "turun gunung" menyapa masyarakat sangat beralasan jika melihat dinamika politik belakangan ini.

Pasalnya, pasca-lengser dari kursi kepresidenan, Jokowi kerap menjadi sasaran tembak kelompok yang berlawanan dengannya.

"Apalagi selama ini serangan demi serangan yang diluncurkan lawan-lawan politik beliau cukup masif," ujarnya. 

Menurut Agung, interaksi langsung dengan masyarakat di berbagai daerah adalah cara paling efektif bagi Jokowi untuk mempertahankan modal sosialnya.

"Sehingga perlu direspons dengan langkah-langkah terukur dan harapannya mampu menarik simpati publik sehingga Jokowi Effect tetap berefek di Pemilu 2029," ungkapnya. 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved