Sabtu, 2 Mei 2026

Waspada, Tipu Daya Crazy Rich di Bisnis Kripto Memanfaatkan Kepolosan Investor Newbies

Meskipun investasi ini memiliki risiko yang cukup tinggi, namun hal tersebut tak menurunkan minat masyarakat untuk terjun ke bisnis kripto

Tayang:
Editor: Sanusi
The Economic Times
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kasus penangkapan beberapa crazy rich Indonesia yang memanfaatkan bisnis cryptocurrency sebagai alat untuk meraup kekayaan dengan cara ilegal, masih jadi topik pembicaraan yang hangat oleh para warganet tanah air.

Belakangan diketahui, para pelaku bisnis kripto yang kerap menyebut dirinya sebagai crazy rich, sengaja memanfaatkan cara ini untuk mendulang cuan yang fantastis hanya dengan memanfaatkan kepolosan para investor baru khususnya para generasi milenial.

Baca juga: Waspadai Penipuan, Uni Eropa Peringatkan Investor Untuk Jauhi Investasi Kripto

Ramainya pemberitaan mengenai aset digital cryptocurrency sebagai salah satu instrumen investasi yang paling menjanjikan, telah sukses mencuri perhatian mayarakat dunia tak terkecuali Indonesia. Bahkan popularitas dari kripto berhasil mengundang kehadiran investor baru atau newbies untuk berkecimpung di bisnis tersebut.

Meskipun investasi ini memiliki risiko yang cukup tinggi, namun hal tersebut tak menurunkan minat masyarakat untuk terjun ke bisnis kripto.

Baca juga: Jangan Cuma Ikut Tren untuk Investasi Kripto, Waspadai Praktik Pump and Dump

Bahkan menurut data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), selama Februari 2022 kemarin jumlah investor kripto di Indonesia tembus ke angka 11,2 juta dengan nilai transaksi sekitar Rp 859 triliun.

Menurut penjelasan akademisi dan praktisi bisnis Prof. Rhenald Kasali yang dikutip dari laman Youtubenya, para crazy rich ini sengaja memanfaatkan keberadaan sosial media untuk melakukan tindakan ilegal yang terkoordinasi tanpa diketahui oleh publik.

Baca juga: Bank Sentral Rusia Tingkatkan Pengawasan Transaksi P2P, Termasuk Perdagangan Kripto

“Kegiatan ilegal tersebut biasanya dijalankan lewat sebuah grup khusus yang membahas tentang suatu koin. Nantinya mereka akan mengundang orang-orang tertentu untuk ditawarkan bergabung sebagai member yang membahas tentang koin” tambah Rhenald, yang juga Guru Besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Anggap Butuh Cara Pandang Baru Hadapi #MO, Rhenald Kasali Luncurkan Buku Baru
Anggap Butuh Cara Pandang Baru Hadapi #MO, Rhenald Kasali Luncurkan Buku Baru (Istimewa/ TribunJatim.com)

Melalui kelompok inilah, para crazy rich mulai menyebarkan suatu informasi untuk mendokrak popularitas serta harga koin tertentu, Prof Renal menyebut umumnya koin – koin tersebut merupakan koin digital yang namanya masih awan ditelinga, bahkan popularitasnya pun tidak terkenal.

“Koin tersebut sengaja di buat terkenal dengan diberitakan, dibicarakan, ditambah dengan publikasi yang sangat menarik, sehingga terjadilah kenaikan harga yang tajam dalam jangka pendek," jelas Prof. Rhenald.

Dengan ilusi publik inilah para crazy rich akan menciptakan kepopuleran pada koin – koin tadi. Setelah nama koin ini melejit dan harganya yang tiba-tiba tinggi, mereka lantas akan memanfaatkan kepolosan para investor baru untuk memborong koin tersebut.

Namun selepas itu, harga koin kemudian terbanting ke bawah tanpa disadari oleh para pengguna baru. Ilusi inilah yang kemudian dinamai sebagai strategi pump and dump.

“Sebelum harga di banting ke bawah, crazy rich tersebut sudah lebih dahulu melepaskan diri dari koin tersebut dengan begitu mereka jelas telah mengambil banyak keuntungan. Tinggallah orang-orang baru yang terpengaruhi oleh opini yang mereka bangun," tambah Prof. Rhenald.

Dilansir dari laman Marca, pump and dumps merupakan suatu teknik yang menggunakan informasi menyesatkan untuk menaikkan harga cryptocurrency setinggi mungkin, sehingga mereka dapat menjualnya dan mendapat untung dari sana.

Baca juga: Ada Dukungan Kuat Pemerintah, Perkembangan Kripto Topang Pertumbuhan Ekonomi Digital

Umumnya teknik ini dilakukan oleh sekelompok orang. Dengan memanipulasi pasar, mereka sengaja mendorong permintaan dan harga suatu aset agar dapat melambung naik, teknik ini disebut “pumping”.

Ketika harga suatu aset sudah naik, individu atau sekelompok orang tersebut lantas akan menjual aset kripto mereka, hingga menimbulkan harganya jatuh, alias “dump”. Karena siklus pump and dump berlangsung sangat cepat, hingga membuat banyak investor baru yang tak bisa menghindarinya. Hal inilah yang kemudian memicu kerugian hingga miliaran rupiah.

Prof. Rhenald menambah meski kasus penipuan dengan strategi kripto Pump and dump tidak bisa sepenuhnya di berantas, namun pihaknya berharap agar otoritas Indonesia lebih gencar melakukan edukasi dan pencegahan pada para masyarakat sebelum terjun ke dunia cryptocurrency.

Rhenald Kasali juga berpesan, agar calon investor baru terutama para generasi milenial untuk mau belajar sebelum memulai investasi mereka. Hal ini perlu dilakukan agar nantinya mereka tak lagi mudah terpengaruh oleh strategi kripto pump and dump di masa yang akan datang.

Investor Kawakan Dinilai Pasti Sadar Kripto Gorengan, Beda dengan Amatiran

Profesor Rhenald Kasali mengatakan, para pemain cryptocurrency atau mata uang kripto kebanyakan merasa optimistis berlebihan.

Rasa optimistis tersebut muncul dengan mendapatkan informasi harga sebuah koin akan naik secara signifikan dalam waktu singkat alias digoreng.

Diduga ada kelompok memanfaatkan pemain amatiran ini melalui publisitas yang masif lewat grup chatting, untuk kemudian harga koin tersebut dijatuhkan.

"Kalau pemain kawakan sudah sadar, tapi kalau amatir ini memiliki sensasi bahwa koin itu adalah bitcoin killer. Sebab, dalam jangka pendek naik ke atas," ujar dia mengutup laman YouTube-nya, yang berjudul 11,2 Juta Orang Indonesia Main Crypto, Tidak Sadar..., Minggu (20/3/2022).

Dalam praktik pump and dump, para penipu diduga memanfaatkan rasa keceriaan dari awalnya menaikkan harga koin, lalu bekerjasama dengan komplotannya untuk menjatuhkan.

"Di tengah keceriaan, mereka kirim sinyal ke grup (komplotannya), lalu harga ke banting ke bawah. Harga jatuh, mereka lepas dulu, ambil keuntungan," kata Rhenald.

Langkah terorganisasi secara bersama-sama, dengan memengaruhi pikiran, harga, dan setelahnya dijatuhkan ini tidak disadari oleh para member grup tersebut.

"Member dapat iming-iming keuntungan, ini tidak disadari kaum muda. Mereka masukkan uang besar sekali, usianya 18 tahun sampai 29 tahun," pungkas Rhenald.

Selengkapnya bisa disaksikan di link YouTube di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=v0miuShQKMU&ab_channel=RhenaldKasali

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved