Bitcoin Merosot ke Level 18.000 Dolar AS, Terendah Sejak Dua Bulan

Tak hanya Bitcoin saja yang mencatatkan rapor merah, penurunan harga juga terjadi pada beberapa koin kripto lainnya.

Shutterstock
Bitcoin dan aset kripto lain mengalami penurunan, setelah para investor khawatir apabila bank sentral The Fed kembali menyerukan sikap hawkish dengan mengerek naik suku bunga acuannya ke level terendah, hingga inflasi AS mereda dikisaran 2 persen. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Setelah Bitcoin bertengger di kisaran 20.000 dolar AS selama sepuluh hari terakhir, reli koin kripto terpopuler ini kembali menunjukan pelemahan harga dan berakhir ambles di level 18.000 dolar AS pada perdagangan Rabu (7/9/2022).

Mengacu data Coinmarketcap, pada Rabu siang harga Bitcoin ambles 5,53 persen menjadi 18.66 dolar AS selama 24 jam terakhir. Penurunan ini bahkan jadi yang terendah sejak Juni lalu dimana saat itu harga Bitcoin dibandrol 18.68 dolar AS.

Tak hanya Bitcoin saja yang mencatatkan rapor merah, penurunan harga juga terjadi pada beberapa koin kripto lainnya, seperti Ethereum yang anjlok 8,99 persen hingga harganya bergeser turun di kisaran 1.516 dolar AS.

Baca juga: Ketua MPR RI Bamsoet Dorong Indonesia Jadi Hub Kripto Dunia

Menyusul yang lainnya harga Shiba Inu juga terpantau ambles 5,48 persen menjadi 0.00001202 dolar AS, sementara koin Dogecoin tergelincir sebesar 6.93 persen menuju 0.059 dolar AS dan Cardano (ADA) anjlok 8.23 persen ke posisi 0.4632 dolar AS.

Terkoreksinya Bitcoin, Ethereum, dan sederet koin kripto lainnya terjadi setelah Data Purchasing Managers Index (PMI) merilis aktivitas jasa di AS.

Dalam laporannya PMI menjelaskan bahwa permintaan jasa di kawasan Amerika cenderung membaik pada Agustus 2022 yaitu berada di kisaran 56,9. Lebih baik dari posisi sebelumnya tepatnya saat indeks PMI berada di posisi bulan lalu 56,7.

Meski kenaikan ini memberikan sinyal positif pada perekonomian AS, namun dengan meningkatnya aktivitas jasa tersebut para investor khawatir apabila bank sentral The Fed akan kembali menyerukan sikap hawkish dengan mengerek naik suku bunga acuannya ke level terendah, hingga inflasi AS mereda dikisaran 2 persen.

Alasan tersebut yang membuat para investor kompak menjual aset kriptonya, hingga harga Bitcoin terus mencatatkan penurunan harga.

"September tahun ini menjadi bulan yang penuh tantangan karena ekonomi yang tangguh membuka jalan bagi The Fed melakukan pengetatan lebih lanjut," kata analis pasar kripto dari Oanda, Edward Moya.

Coindesk memperkirakan bahwa kondisi bearish tersebut akan terus berlangsung selama beberapa pekan kedepan, mengingat kondisi pasar kripto global saat ini masih sangat rawan mengalami perubahan volatilitas.

"Dari perspektif teknis, harga tetap sesuai dengan proyeksi kami, dan kami akan memperkirakan pergerakan Bitcoin akan terus turun dan berada di kisaran 15.000 dolar AS," kata DiPasquale, CEO manajer dana lindung nilai crypto BitBull Capital.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved