Chainalysis: Hacker Korea Utara Kepergok Curi Aset Kripto, Rp 25 Triliun Raib
Kelompok hacker Korea Utara yang bernama Lazarus selama tahun 2022 telah melakukan aksi pencurian pada aset cryptocurrency senilai miliaran dolar AS.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Namira Yunia Lestanti
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Perusahaan analitik blockchain yang berbasis di AS Chainalysis mengungkap kelompok hacker Korea Utara yang bernama Lazarus selama tahun 2022 telah melakukan aksi pencurian pada aset cryptocurrency senilai miliaran dolar AS.
Dalam setahun terakhir setidaknya Lazarus telah menggasak Bitcoin senilai 1,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 25 triliun (satuan kurs Rp14.903) dari total pencurian kripto global yang telah mencapai 3,8 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut meningkat tajam apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dimana saat itu total aset kripto yang diretas Korut hanya sebanyak 429 juta dolar AS.
"Pada 2022, mereka memecahkan rekor pencurian mereka sendiri," kata Chainalysis dikutip dari Reuters.
Chainalysis mengungkap bahwa para hacker Lazarus melancarkan aksinya dengan memanfaatkan celah dalam platform keuangan terdesentralisasi (DeFi), dengan membobol sistem keamanan di jaringan kode kontrak pintar para hacker mulai beraksi menggasak dompet kripto para investor .
Jaringan tersebut awalnya dibuat agar protokol ini dapat diakses publik secara default, namun sayangnya sistem keamanan yang disematkan dalam layanan tersebut sangat rentan. Alasan ini yang menarik perhatian peretas untuk membobol kode keamanan DeFi.
“Transparansi pada sistem DeFi sangat menarik bagi peretas, dengan kelemahan itu dimanfaatkan peretas memindai kode untuk mengetahui kerentanan dan menyerang pada waktu yang tepat” ujar David Schwed, chief operating officer di perusahaan keamanan blockchain Halborn.
Baca juga: FBI: Hacker Korea Utara Dalang Peretasan Perusahaan Kripto, Kerugian 100 Juta Dolar AS
Chainalysis mencatat selama tahun 2022 lebih dari 82 persen aset kripto yang tersimpan di protokol keuangan DeFi telah raib dicuri kelompok hacker Lazarus.
Meski Korea Utara berulang kali membantah tuduhan tersebut, namun menurut penelusuran yang dilakukan Chainalysis sejumlah akun anonim itu disinyalir memiliki jaringan utama yang berbasis di kawasan Pyongyang
Baca juga: Binance Diretas, 3 Juta Dolar AS Koin Kripto Raib Digondol Hacker
Diperkirakan hasil peretasan tersebut digunakan Lazarus untuk membantu pemerintah Korea Utara mendanai program uji coba rudal dan senjata nuklirnya ditengah meningkatnya situasi perang.
"Total ekspor Korea Utara pada tahun 2020 hanya berjumlah 142 juta dolar AS, jadi tidak mungkin apabila pendapatan negara yang minim ini digunakan untuk menunjang pembuatan program rudal balistik, atas dasar ini kami meyakini bahwa peretasan kripto menjadi penopang bagi ekonomi Pyongyang” jelas Chainalysis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-chainalysis____.jpg)