Seperti Ini Tanggapan Driver Ojol Jika BBM Jenis Premium dan Pertalite Dihapus

"BBM kualitas rendah berpotensi merusak mesin, selain tentunya menyebabkan tingginya emisi gas buang," kata Ahmad Safrudin

Seperti Ini Tanggapan Driver Ojol Jika BBM Jenis Premium dan Pertalite Dihapus
Warta Kota/Henry Lopulalan
Driver ojek online di depan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (2/7/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyatakan produksi dan penjualan Premium 88, Pertalite 90, Solar 48, dan Dexlite sudah saatnya dihentikan.

Sebab, jenis bahan bakar tersebut diklaim menyumbang tingginya polusi udara, terutama di DKI Jakarta.

"BBM kualitas rendah berpotensi merusak mesin, selain tentunya menyebabkan tingginya emisi gas buang," kata Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif KPBB di Jakarta, belum lama ini di Jakarta.

Ahmad menyampaikan, oleh sebab itu sepeda motor juga disebut sebagai penyumbang polusi terbesar di Ibu Kota, karena secara populasi lebih besar dibandingkan jenis kendaraan lain.

Jika hal tersebut dikabulkan, maka akan timbul gejolak yang cukup besar, khususnya pada pengemudi ojek online (ojol).

Sebab, biaya pengeluaran untuk bahan bakar cukup diperhitungkan dan mempengaruhi pendapatan. 

Baca: Toyota: Mobil Listrik Tidak Hanya Urusan Produksi dan Jualan, Ada Kegelisahan di Masyarakat. . .

"Kalau Pertalite dihapus, ya mau tidak mau, maka harus ada penyesuaian tarif ojol lagi. Sebab biaya pengeluaran akan semakin tinggi. Dari tiap satu hari hanya Rp 20.000 menjadi Rp 35.000-an," kata salah satu pengemudi ojol, Syahrul kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (19/8/2019).

Begitu pula yang dirasakan Deddy, pengemudi ojol asal Bekasi. Menurut dia, bahan bakar Pertalite masih cukup baik untuk sepeda motor sekarang.

Baca: Menristekdikti Ajak Mahasiswa 5 Perguruan Tinggi Kembangkan Prototipe Mobil Listrik

Selain dari harga, potensi masalah yang bisa terjadi juga tak kunjung datang.

"Baik-baik saja saya pakai Pertalite. Menurut saya sih dibuat pengecualian saja untuk orang yang bisa pakai Pertalite. Jangan benar-benar diputus karena dampaknya besar," katanya.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved