Bakrie Autoparts Pamerkan Bus Listrik yang Diujicoba Transjakarta

Satu unit bus listrik BYD dengan bodi yang dirakit oleh Karoseri Nusantara Gemilang, di Kudus, dipamerkan di depan kantor pusat LDII

Bakrie Autoparts Pamerkan Bus Listrik yang Diujicoba Transjakarta
IST
Bus listrik BYD dari Bakrie Autoparts di acara FGD membedah topik kendaraan listrik di kantor LDII, Jakarta, Selasa (12/2/2020). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Bakrie Autoparts memamerkan satu unit bus listrik BYD asal China yang sedang dalam ujicoba oleh PT Transjakarta di sela acara focus group discussion (FGD) mengangkat tema 'Menyongsong Era Mobil Listrik Nasional' yang digelar di kantor pusat LDII, Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Satu unit bus listrik BYD dengan bodi yang dirakit oleh Karoseri Nusantara Gemilang, di Kudus, Jawa Tengah, dipamerkan di depan kantor pusat LDII di kawasan Patal Senayan, Jakarta.

Sejumlah pimpinan LDII bersama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin serta perwakilan Bakrie Autoparts sempat mencoba duduk di kabin bus yang bodinya dicat warna hijau kombinasi biru muda ini.

Wakil Ketua DPR Azis Syamsudin berharap kedepan mobil listrik dapat dinikmati dan dijangkau semua elemen masyarakat, seperti salah satu merek mobil yang mudah dijumpai di jalan-jalan protokol.

Baca: DPR: Banderol Mobil Listrik di Atas Rp 500 Juta Itu Kemahalan

"Bagaimana mobil listrik ini jangan dimulai dari mobil mewah tapi mobil yang bisa dijangkau masyarakat, seperti Avanza atau Innova. Itu mobil yang relatif hampir setiap meter kita ketemu dan kita tidak bisa nyalip mobil Avanza. Karena pas mau nyalip mobil Avanza, di depannya sudah ada mobil Avanza lagi," ujar Azis Syamsuddin.

Dia mengapresiasi LDII upaya menggelar FGD membedah masa depan teknologi mobil listrik ini.

Bus listrik BYD1
Wakil Ketua DPR Azis Syamsudin dan Ketua Umum LDII Abdullah Syam berpose di depan bus listrik dari Bakrie Autoparts di depan kantor LDII Jakarta, Rabu (12/02/2020).

Terkait mobil listrik ini, Azis Syamsudin juga menyampaikan beberapa catatan. Diantaranya terkait sampah baterai dari bis atau mobil listrik setelah tidak bisa digunakan.

Menurutnya, limbahbaterai lithium dari mobil listrik yang sudah tidak bisa digunakan akan lebih berbahaya dari limbah mobil konvensional.

"Karena sehabis era mobil listrik, jangka waktu electric vehiclenya sampai berapa lama, kemudian waste nya mau dikemanain. Apakah zat kiminya itu membahayakan atau tidak. Itu yang harus kita pikirkan," ujarnya.

Baca: Persaingan SUV Makin Panas, Peugeot Luncurkan Duet 3008 dan 5008 Allure Plus

Ia berharap kegiatan FGD seperti yang diselenggarakan LDII bisa menghasilkan ide terkait sampah dan tempat penampungan mobil listrik nantinya sekaligus memberikan solusi bagi pemerintah kedepan untuk memproduksi mobil listrik secara massal.

"Semoga diskusi terpumpun LDII ini menghasilkan ide bahwa wastnya itu tidak berbahaya dan sudah ada tempat penampungan waste. Sehingga tidak ada lagi sampah-sampah konvensional seperti di bantar gebang dan TPA lainnya," ujarnya.

Ketua Umum LDII Abdullah Syam mengatakan, LDII telah mengkaji gagasan mobil listrik melalui empat pilar, yaitu pilar lingkungan, pilar teknis, pilar regulasi atau sosial keterlibatan eksekutif dan legislatif, juga pilar ekonomi.

"Supaya kita tidak ketinggalan dari negara-negara lain. Di LDII itu ada 3K, yaitu Karya atau berbuat sesuatu, komunikasi yang terus kita jalin dan akhirnya memberikan kontribusi," ujar Abdullah Syam.

  

Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved