Mobil Listrik

Kurangi Ketergantungan China, Produsen Baterai EV Berlomba Kembangkan Bahan Sel Baterai Murah

Untuk saat ini, China mendominasi produksi baterai kendaraan listrik, termasuk penambangan dan pemurnian bahan mentah.

Editor: Muhammad Zulfikar
Wikipedia
Ilustrasi baterai kendaraan listrik. Perusahaan rintisan AS dan Eropa berlomba untuk mengembangkan baterai baru menggunakan dua bahan yang berlimpah sekaligus murah yakni natrium dan belerang sehingga dapat mengurangi dominasi baterai China. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Perusahaan rintisan AS dan Eropa berlomba untuk mengembangkan baterai baru menggunakan dua bahan yang berlimpah sekaligus murah yakni natrium dan belerang sehingga dapat mengurangi dominasi baterai China.

Dikutip dari Reuters, Selasa (15/11/2022) produsen kendaraan listrik (EV) hingga saat ini masih menggunakan baterai lithium ion, yang kebanyakan dibuat dari bahan lithium, kobalt, mangan, dan nikel bermutu tinggi dengan harga yang mahal.

kendaraan listrik masa depan yang diperkirakan tiba setelah 2025 dapat beralih ke sel baterai ion natrium atau litium sulfur yang bisa mencapai dua pertiga lebih murah daripada sel ion litium saat ini.

Baca juga: Pemerintah Diminta Berikan Subsidi dan Bunga Ringan Leasing untuk Kendaraan Listrik

Namun, janji mereka bergantung pada terobosan potensial dalam elektrokimia oleh perusahaan rintisan seperti Theion yang berbasis di Berlin dan Faradion yang berbasis di Inggris, serta Lyten di Amerika Serikat.

Adapun, bahan kimia baterai yang lebih baru memiliki masalah yang harus diatasi. Baterai ion natrium belum menyimpan cukup energi, sedangkan sel belerang cenderung cepat terkorosi dan tidak bertahan lama.

Namun, lebih dari selusin start-up telah menarik investasi jutaan dolar, serta hibah pemerintah, untuk mengembangkan baterai jenis baru.

Untuk saat ini, China mendominasi produksi baterai kendaraan listrik, termasuk penambangan dan pemurnian bahan mentah.

Benchmark Mineral Intelligence, sebuah konsultan yang berbasis di Inggris, memperkirakan China saat ini memiliki 75 persen dari kapasitas penyulingan kobalt dunia dan 59 persen dari kapasitas pemrosesan litiumnya.

"Kami masih bergantung pada rantai pasokan material dari China," kata James Quinn, kepala eksekutif startup baterai ion natrium Inggris, Faradion.

Baca juga: Di Pameran Kendaraan Listrik di Bali, Menhub Budi Karya Dapat Penjelasan soal bZ4X dari TAM

"Jika Anda melihat implikasi geopolitik global dari itu, ini adalah tantangan untuk keamanan energi, keamanan ekonomi, dan keamanan nasional,” imbuhnya.

Selain itu, produsen baterai terbesar di Asia yakni CATL juga sedang mengerjakan sel baterai dengan kimia baru. Mereka berencana untuk mulai memproduksi sel ion natrium pada 2023 mendatang.

Kemudian, pembuat baterai asal Korea Selatan LG Energy Solution juga berencana memproduksi sel lithium sulfur pada 2025.

Bahan Pembuat Baterai

Satu-satunya elemen paling mahal dari baterai EV adalah katoda, yang menyumbang hingga sepertiga dari biaya sel baterai.

Baca juga: Kendaraan Listrik Mengaspal, Berikut Cara Merawat Motor Listrik agar Tetap Awet

Sebagian besar baterai EV saat ini menggunakan salah satu dari dua jenis katoda yakni Nikel kobalt mangan (NCM) ataupun lithium besi fosfat (LFP).

Katoda NCM mampu menyimpan lebih banyak energi, tetapi menggunakan bahan yang mahal (nikel, kobalt). Sedangkan katoda LFP biasanya tidak menyimpan banyak energi, tetapi lebih aman dan cenderung lebih murah karena menggunakan bahan yang lebih melimpah.

Seperti diketahui, harga bahan katoda utama seperti nikel dan kobalt telah meroket selama dua tahun terakhir.

Oleh sebab itu, banyak perusahaan berharap untuk dapat mengganti bahan yang lebih murah dan lebih melimpah seperti natrium dan belerang.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved