Pemilu 2014

Pernyataan Burhanuddin Muhtadi Soal Rekapitulasi KPU Sebaiknya Ditanggapi Positif

pernyataan Burhan tersebut tidaklah perlu terlalu di-blow up secara berlebihan

Pernyataan Burhanuddin Muhtadi Soal Rekapitulasi KPU Sebaiknya Ditanggapi Positif
Tribunnews/Herudin
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) yang juga pendiri Cirus Surveyors Group Andrinof  Chaniago menilai, makna tersirat yang hendak disampaikan Burhanuddin Muhtadi.

Burhanuddin melalui pernyataannya sebelumnya mengatakan,  adalah jika quick count yang dilakukan benar, dan KPU melakukan real count (rekapitulas suara) Pilpres dengan benar pula, maka hasilnya tidak akan jauh berbeda.

Karena, kedua-duanya dilakukan secara ilmiah dan sudah teruji mekanismenya. Quick count, lanjutnya, bisa saja salah atau disalahgunakan. Begitu pula dengan real count KPU bisa salah atau disalahgunakan sehingga terjadi penyimpangan.

“Karena Burhan menyakini hasil quick count yang dilakukan lembaganya sudah benar, maka ia yakin hasil real count KPU nanti juga tidak akan jauh berbeda,” kata Andrinof saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Senin (14/7/2014).

Oleh sebab itu, sambung Andrinof, pernyataan Burhan tersebut tidaklah perlu terlalu di-blow up secara berlebihan. Atau, digelembungkan menjadi sebuah isu yang besar. “Tapi, lihatlah maksudnya itu apa? Sebaiknya ditanggapi secara positif, ” ujarnya

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, jika KPU menangkan Prabowo, maka ada yang salah dengan perhitungan KPU.

Primawira, Anggota tim pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta dari Djoko Santoso Center, menyayangkan pernyataan Direktur Eksekutif lembaga survei Indikator Politik, Burhanudin Muhtadi, yang menyebut Komisi Pemilihan Umum (KPU), bisa disebut salah bila perhitungannya memenangkan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa.

Kepada wartawan dalam pemaparannya di Djoko Santoso Center, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (13/7/2014), Prima mengatakan quick count atau hitung cepat bukanlah data yang lebih valid dari proses penghitungan oleh KPU yang akan diumumkan pada 22 Juli mendatang.

"Mereka (Indikator Politik), mengambil sample tanpa ada saksi, data itu (apa) bisa lebih valid dari KPU ?" tutur Prima.

Ia menyebutkan KPU memiliki saksi di setiap TPS, dan saksi dari masing-masing pasangan pun ikut memantau mulai dari proses pencoblosan hingga proses penghitungan.

Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved