Calon Presiden 2014

Pengamat: Logika Burhanuddin Muhtadi Tidak Salah

Ray mengatakan hanya cara penyampaiannya saja yang seolah mengklaim paling benar dalam melakukan quick count.

Pengamat: Logika Burhanuddin Muhtadi Tidak Salah
/henry lopulalan
KISRUH PDT- Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti (tengah) bersama Ketua Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang (kiri) dan Koordinator Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin (kanan) memberikan keterangan pres kepada wartawan menyikapi penetapan daftar pemilih tetap pemilu di Media Center KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (7/11/2013). Mereka mendesak DPR segera membentuk panitia khusus guna mengevaluasi program pendataan penduduk dan penetapan pemilih yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri menyusul kekisruhan penetapan daftar pemilih tetap Pemilu 2014. (Warta Kota/henry lopulalan) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rahmat Patutie

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik Ray Rangkuti menilai logika berpikir Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi,  tidak salah saat menyatakan hasil quick count atau hitung cepat lembaganya lebih tepat dari pada Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ray mengatakan hanya cara  penyampaiannya saja yang seolah mengklaim paling benar dalam melakukan quick count.

"Burhanuaddin logikanya tidak salah. Tapi mungkin cara penyampaiannya buat orang-orang agak shock. Kok seolah-seolah quick count pasti benar," ujarnya kepada wartawan, di sebuah kafe di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (17/7/2014).

Ray mengatakan terbalik jika menganggap perhitungan KPU yang melegitimasi keakuratan quick count yang dilakukan oleh lembaga survei.

Karena hitung cepat justru berperan memberikan gambaran awal tentang hasil perhitungan suara KPU.

"Ini agak terbalik-terbalik karena menganggap perhitungan KPU yang meligitimasi keakuratan quick count yang dilakukan oleh lembaga survei itu mestinya terbalik," kata Ray.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani itu menyebutkan, kalau quick count itu dapat menjadi dasar atau pengagangan untuk melihat hasil perhitungan KPU.

Jadi kalau ada selisih yang jomplang antara keduanya, kata dia, justru harus di pertanyakan mana yang benar diantara keduanya.

Bahkan, dia menuturkan jika ada selisih yang cukup drastis dari hasil hitung cepat salah satu diantara keduanya harus dicurigai.

Halaman
12
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved